Showing posts with label Dr Ibrahim Peyon. Show all posts
Showing posts with label Dr Ibrahim Peyon. Show all posts

Friday, June 6, 2025

Dr Ibrahim Peyon: Masyarakat Subsisten di Romba Kapitalis

Waktu penelitian di Sebyar, Kab. Bintuni, kami keliling mengumpulkan data di kampung-kampung seperti Taroi, Weriagar, Kali Tami, Tomu, Ekam dan Rejosari. Suatu hari saya bertemu untuk melakukan indep interview dengan seorang kepala suku yang cukup berpengaruh di Tomu, bernama Aci Kosepa. Ia mengatakan berbagai perusahaan dan kapitalis datang perkosa anak gadis Sebyar yang masih perawan. Gadis Sebyar perawan ini menunjuk Gas dan Minyak terbesar yang diambil oleh perusahaan milik Inggris bernama proyek LNG Tangguh Britis Petrolium (LNG-BP).  

Dalam penelitian kedua tinggal di suatu penginapan milik satu keluarga Makasar yang tinggal lama di Rejosari, ibu kota distrik Sebyar, salah satu informan kunci yang saya wawancara adalah Sadam Kosepa, ia mengatakan kepada saya: Anak perusahaan-perusahaan ini seperti Malaria tersiana yang mau mengisap darah kami semua dan kami mati secara berlahan. Mereka datang dan sengaja membunuh kami orang Papua ini secara tidak langsung, setelah itu kami mati secara berlahan dan mereka akan menguasai tanah dan kekayaan kami ini".  

Suatu hari, saya melakukan wawancara mendalam dengan beberapa informan dari masyarat Nebes yang tinggal di suatu kampung di belakang Rejosari, mereka mengatakan kami ini seperti cacing yang merayap dan memakan ampas-ampas sagu yang dibungut dari monopoli perusahaan Sagu yang peroperasi di Rejosari ini. Perusahaan ini larang kami ambil sagu di hutan dan hanya boleh ambil di perusahaan ini dengan harga yang mahal. Sebelum perusahaan ini datang, kami mencari makan bebas, orang Sebyar memberikan kami kebebasan untuk berburu, menangkap ikan, dan menokok sagu, dan buat kebun. Tapi, situasi sekarang sangat susah. 

Dalam penelitian yang ketiga, saya tinggal di rumahnya bapak David Bauw di kampung Weriagar dan Mogotira, dan suatu malam saya bertanya kepada beliau tentang sejarah asal usul klan-klan di kampung ini. Dia menjelaskan asal usul semua klan di sana dan klannya sendiri yang menyatakan keluar dari dalam tanah di Pasuweri dengan bawa semua kekayaan di wilayah itu. Salah satunya kekayaannya, sumur minyak yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan bernama conoco di tempat itu. Tetapi, semua kekayaan ini kini dicuri dan dirampok oleh kapitalis dan kelompok konglomerasi lain, semua dibawa ke luar dari Sebyar.

Dalam penelitian yang pertama, ke kampung Taroi dua minggu di sini dan kemudian pindah dan tinggal dua hari di Magarina, sebuah kampung kecil tempat penghasilan terbesar udang dan lokasi dusun sagu. Tiap hari berbagai jenis kapal-kapal masuk di sini, untuk mengabil udang dan dipasarkan secara nasional dan internasional. Kapal-kapal ini beli udang dari masyarakat Rp. 2.000 per kg dan mereka jual ke tempat tujuan dengan harga 10 kali lipat. 

Mereka mengatakan, kekayaan kami banyak dan berlimpah, tetapi kami tidak berdaya. Berbagai perusahaan datang dan ambil hasil kami, mereka menjadi untung dan menjadi besar. Kami orang Sebyar, hidup masih tetap sama, kini kami menjadi buruh dan budak-budak orang asing di tanah kami sendiri.

Dalam suatu penelitian terpisah kami tim peneliti dari Babo menuju sebuah pulau kecil bernama Amuti, di tempat itu beroperasi sebuah perusahaan kayu Mangrove untuk produksi kertas, di sini kami temukan suatu fakta yang sangat mengerikan, dimana para pekerja yang umumnya orang Papua mayoritas dari kepala burung dan keluarga mereka tinggal di beberapa parak dan makan bersama seperti asrama besar. Mereka terkurung di sini, perusahaan tidak memberikan ijin mereka kembali ke kampung atau mengunjungi keluarga. Anak-anak usia sekolah tidak bersekolah dan tinggal di sini. Meskipun, temuan ini tidak ditulis dalam buku ini, tetapi akan muncul dalam jilid berikunya.   

Kesimpulkan dari kehidupan yang digambarkan oleh orang-orang Sebyar itu, dirangkum dalam tema: Masyarakat Subsisten di Rumba Kapitalis.

Sunday, January 5, 2025

Kolonialisme dan Pemberian Nama Peta Asing kepada Peta Asli

Pegunungan Koiali yang oleh kolonial Eropa mengubah nama menjadi pegunungan Owen Stanley (titik merah dalam peta), di gunung ini sebuah tempat bernama Haganumu adalah situs sejarah paling penting suku-suku yang mendiami di tiga Provinsi, Sentral Province, Oro Province dan Melne Bay Provonce. Suku-suku ini mengakui leluhur mereka keluar dari dalam tanah melalui sebuah lubang gua di gunung ini, tempat itu disebut Haganumu. Dari tempat inilah mereka menyebar ke berbagai tempat dan terbentuk menjadi klan, sub suku dan suku yang mendiami di wilayah tersebut. Studi arkeologi yang melakukan penggalian di sebuah tempat sebagai kampung tua yang pernah mendiami orang Papua, setelah migrasi dari puncak gunung, membuktikan bahwa di kampung tersebut telah dihuni 35.000 tahun lalu. 

 Mengambil patokan dari itu, kampung-kampung di wilayah pegunungan tersebut telah dihuni 50.000 hingga 60.000 tahun lalu atau lebih jauh dari itu. Sementara itu, suku-suku di Teluk Papua, muara sungai Fly, Selat Torres dan pantai Australia (lingkaran merah) ini mengakui leluhur mereka bermigrasi dari dataran tinggi Papua (Pegunungan Tengah Papua). 

Berbagai studi arkeologi membuktikan penduduk di wilayah ini bermigrasi dari dataran tinggi 300 tahun lalu, mereka turun mengikuti sungai Fly, Sungai Purari dan Tauri hingga mencapai pantai. Lebih 50.000 tahun lalu orang Papua dan orang Aborigin pisah, namun hubungan genetik mereka masih ditemukan hingga sekarang. 

Sebuah studi genetik yang dilakukan dengan sampel Aborigin di Australia dan sampel orang Papua di PNG seperti suku Daga di ujung selatan PNG membuktikan 47% kesamaan genetik antara Papua dan Aborigin.

Dr Ibrahim Peyon: Kritikan Teorerisi Melanesia atas Teori-teori Barat tentang Melanesia

Seorang Antropolog yang berasal dari Papua New Guinea, bernama Warilea Iamo Kritik seorang Antropolog besar bernama Margaret Mead yang menulis tentang Pasifik. Margeret Mead dalam buku-buku tentang Samoa, Manus dan Papua New Guinea, menulis orang Pasifik dalam distriminasi rasial yang kental. Margaret tidak sendirian, tetapi sebagian antropolog aliran Boasian seperti ruth Benedict, Kroebert dan beberapa lain. Antropologi Fungsionalisme  Inggris Bronislaw Malinoswki juga telah membantu kolonial untuk kekuasaan kolonialisme di Pasifik. Karena itu, Derek Freedom kritik keras terhadap Margaret Mead, Ruth Benedict dan Franz Boas yang dinilai teori mereka sebagai ideologi politik, dan mengabaikan prinsip-prinsip ilmiah. 

Dalam konteks ini, Warilea Iamo menulis sebagai beriku:  "saya telah mencoba untuk menunjukkan bahwa pengetahuan adalah bagian yang rumit dari kekuasaan. Pengetahuan antropologis berarti mengetahui yang Lain. Mengetahui yang Lain adalah untuk menciptakan sejarah, politik, geografi, dan budaya seseorang, untuk menghapus kekuatan imajinasi, dan untuk membuat orang tersebut tergantung. Tetapi untuk mengetahui orang lain juga berarti menganggap diri kita bisa lebih memahami diri kita sendiri. Dengan demikian, sebuah diferensiasi dan dikotomi "kita" sebagai yang superior dan "mereka" sebagai yang inferior berkembang. Dan, untuk mengetahui yang Lain adalah untuk memiliki otoritas atas orang tersebut, untuk mewakili, dan memperbanyak orang itu. Proses semacam ini akan menimbulkan stigma, di mana orang pribumi tidak dilihat dalam haknya sendiri, tetapi lebih dilihat dari apa yang telah dibuat dari individu tersebut". 

Stigma Papua adalah sebuah argumen teoretis dari sudut pandang kita sebagai subjek antropologi dan juga para antropolog. Stigma ini melihat "penemuan" antropologis tentang orang dan budaya Papua oleh Margaret Mead, bahkan oleh para antropolog masa kini, sebagai kategori sosial representasi yang lebih tertanam dalam budaya Barat daripada gambaran yang sebenarnya dari orang-orang itu sendiri. Saya berargumen bahwa penemuan-penemuan ini bukanlah sekadar imajinasi, karena kini mereka menjadi bagian integral dari peradaban Barat dan dunia saling ketergantungan tempat kita hidup. Stigma Papua muncul dari antropologi komparatif, yang spesialisasinya adalah komponen peradaban manusia yang diberi label "primitif" dan mengandung berbagai tingkat sejarah, ekonomi, politik, agama, psikiatri, dan sebagainya. Ini adalah kerangka psikologis Barat untuk mempertahankan citra dirinya yang diproyeksikan sebagai yang "Lain," seseorang yang lebih rendah dan lebih sederhana, untuk mendefinisikan dirinya sendiri sebagai "lebih baik." Ini terutama benar, karena menurut Diamond (1974: 119), "tanpa model semacam itu, semakin sulit untuk mengevaluasi atau memahami patologi dan kemungkinan-kemungkinan kontemporer kita."  Karena itu, Jared Diamond dalam bukunya, The World Until Yesterday: What Can We Learn from Traditional Societies,  juga membandingkan korban dalam perang dunia II sebagai akibat dari Bom Atom di Hirisima dan Nakazaki, dengan perang suku dalam masyarakat Dani. Ia abndingkan secara presentasi korban dalam perang dunia II lebih kecil ketimbang korban dalam perang suku orang Dani. 

Pandangan mencerminkan ideologi politik Barat terhadap di luar mereka, skriminasi rasis dan ideologi politik dibangun atas nama ilmiah dan ilmu pengetahuan. Sejauh ini ilmuwan Papua, meskipun berbagai titel yang dimilikinya tetapi kami belum mampu melihat teori secara kritis dan ilmiah. kami belum bisa membela diri kami sendiri dari kekuasaan pengetahuan barat yang menindas dan merendahkan martabat kemanusiaan sejati dan kesetaraan manusia.

Dr Ibrahim Peyon tentanf Dasar Teori Pembagian Wilayah Ada di West Papua

Dalam postingan saya beberapa waktu lalu bertanya tentang dasar akademik Peta 7 Wilayah adat di Papua. Meskipun peta ini katanya dibuat oleh beberapa pihak termasuk antropologi uncen, SIL, Dewan Kesenian Papua dan DAP. Tetapi, sejauh ini belum ada kajian ilmiah tentang peta 7 wilayah adat ini. Di jurusan kami, di antropologi Uncen ada gantung peta ini di ruang dosen dan beberapa kali dalam rapat jurusan kami, saya bertanya dasar akademik peta tersebut dan saya mengatakan peta ini tidak layak tempel di sini. Karena tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Beberapa kali dosen-dosen dari Indonesia dan juga luar negeri yang datang, sempat bertanya tentang peta itu, tetapi secara akademik kami tidak bisa menjelaskan. 

Dengan itu, saya berpikir, sebagai seorang antropolog dan akademik, tidak bertanggung jawab jika hanya kritik, tanpa berbuat sesuatu tentang soal itu. Kemudian saya putuskan bahwa perlu kajian ilmiah secara mendalam tentang Wilayah Kebudayaan di Melanesia. Saya mulai meneliti Manusia dan kebudayaan suku-suku di Melanesia selama 3 tahun sejak 2022 hingga 2024, dan akhir tahun 2024 telah berhasil selesaikan kajian itu dengan menghasilkan sebuah buku yang berjudul 
"Distribusi Manusia dan Budaya: Isu-Isu Ras, Etnik dan Kultur Area". Dengan metode kerja lapangan, dan studi literatur lebih dari 2. 000 buku. Dalam buku ini saya telah identifikasi dan menetapkan 26 Kultur Area, mulai dari Fiji hingga ke Raja Ampat. Sebanyak 26 Kultur Area di Melanesia itu ditentukan dengan kriteria akademik yang sangat mendasar dan secara keseluruhnya 10 kriteria, misalnya sejarah asal usul, organisasi sosial dan kekerabatan. Kriteria-kriteria itu dapat menentukan suku-suku mana diklasifikasi dalam kultur area mana. Dengan demikian, diharapkan kehadiran buku ini dapat memecahkan masalah perdebatan Kultur Area di Melanesia. Wilayah-wilayah tersebut saya bagi dalam dua kelompok besar, Kelompok tanah besar New Guinea dan kelompok kepulauan. Masing.masing dibahas dalam bab sendiri. Ada alasan ilmiah yang mendasari klasifikasi dalam dua kelompok besar ini. Selain itu, urutan atau penomoran juga dilakukan dengan alasan tertentu dan alasan itu akan dibahas dalam buku lain. Alasan penomoran ini ditentukan berdasarkan sejarah asal usul dan persebaran manusia di Pasifik, seperti pernah saya posting dalam sebuah deskripsi singkat dan peta persebaran manusia di alamat facebook saya. Karena penentuan nomor tidak berdasarkan pada deratan geografis dari timur ke barat dan dari barat ke timur, dan dari utara ke selatan atau sebaliknya.Tetapi, ada dasar yang paling mendasar tentang eksistensi manusia di Pulau besar ini dan persebarannya ke kawasan Pasifik dan Australia secara luas pada masa penciptaan dan setelahnya.

Thursday, December 12, 2024

Politik Statistik Penduduk dan pembohongan Publik

Politik Statistik Penduduk adalah politik pembohongan. Saya melakukan penelitian etnografi di sejumlah Kabupaten di tanah Papua, seperti Jayapura, Jayawijaya, Yalimo, Tolikara, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Mapi, Nabire, Biak, Sorong Selatan, Bintuni dan Asmat, dan bebepa yang lain, selama beberapa tahun. Saya menemukan satu pola yang sama, dimana jumlah penduduk dalam suatu kampung 50-300 juwa dan paling banyak 500 jiwa. Tetapi, data yang tertulis di kantor desa (kampung), kampung dengan 50 jiwa ditambahkan menjadi 200 orang, dan penduduk real 500 jiwa dalam suatu kampung ditambahkan menjadi 1000-2000 jiwa. Pada waktu saya bertanya kepada masyarakat dan kepala kampung, mereka mengemukan bahwa jumlah penduduk fiktif terdiri dari nama pohon, nama burung, nama hewan, nama sungai, nama gunung, dan termasuk nama orang yang sudah mati. Seperti dikemukakan oleh seorang informan di kampung Tomu di Bintuni, pada waktu saya bertanya, berapa anak-anak bapak, ia mengakui 12 orang anak, saya bertanya dimana mereka tinggal? ia mengatakan 6 anak tinggal bersama di rumahnya, dan anak lain tinggal di kampung sebelah. Saya tanya lagi, dimana kampung sebelah, ia mengatakan di kubukan karena mereka sudah meninggal. Tetapi, mereka masih masuk dalam jumlah keluarga kami. Termasuk juga nama-nama orang dari kampung itu yang tinggal di kota lain. 

Saya tanya lagi kepada mereka, mengapa kalian buat penduduk fiktif? Jawaban mereka bervariasi, antara lain: Kami tambah penduduk agar mendapatkan pemekaran desa, dan melalui pemekaran mengilir uang desa. Alasan lain, mereka didesak oleh Bupati dan pejabat Dinas kependuduk. Selain itu, ada jumlah penduduk fiktif banyak untuk kepentingan mendapatkan kursi DPRD dan politik PIKADA khusus Bupati. Ketika ditanya kepada pemerintah daerah, alasan mereka adalah di suatu kabupaten jumlah penduduknya banyak maka mendapatkan anggaran lebih banyak dari pusat. 

Jadi, para anggota Dewan, Bupati dan Gubernur yang terpilih di Papua ini mayoritas adalah suara fiktif, bukan suara manusia. Apabila pendata penduduk dilakukan dengan KTP Elekronik, jumlah penduduk real tiap Kabupaten di Papua ini sedikit, Kabupaten seperti Yalomo, Mamberamo Tengah, Asmat, Nduga, Bintuni, Kaimana mungkin 20-30 ribu jiwa, Kabupaten seperti Yahukimo, Tolikara, Puncak, mungkin sekitar 80-100 ribu jiwa.

Jadi hari ini orang konflik dimana-mana terkait pilkada untuk merebut suara-suara fiktif ini. Saya harap suatu saat negara menerapkan aturan pemilu yang tegas, bahwa semua orang yang ikut pemilu harus dibuktikan dengan E-KTP dan kartu keluarga.

Monday, October 28, 2024

KEKERABATAN DASAR STATUS KEASLIAN ORANG PAPUA

Orang Papua pro kontra status, orang asli Papua dan bukan asli Papua. Dasar yang menentukan status ini adalah sistem kekerabatan suku-suku asli di Papua. Hal lain seperti Hukum adat, politik, perkawinan, dll itu turunan dari sistem kekerabatan, bukan dasar utama. Perkawinan itu sendiri terikat pada tipe kekerabatan dan prinsip keturunan. 

Sistem kekerabatan menjadi dasar untuk menentukan status keaslian, dalam sistem kekerabatan itu bicara tentang tipe kekerabatan, hubungan genealogis, dan prinsip keturunan. Tiga hal ini menjadi dasarnya. Tipe kekerabatan, ada empat tipe di Papua: Model Omaha, Hawaian, Iroquois, dan Iroquois-Hawaian (nama-nama suku-suku Indian Amerika ini digunakan karena pertama kali tipe-tipe kekerabatan itu ditemukan oleh Morgan di suku-suku itu). Model Omaha itu tegas patrilineal maka tidak ada kompromi. Sedang Hawaian, Iroquois, dan Iroquois-Hawaian mayoritas patrilineal, tetapi ada kemungkinan ambilineal bersyarat. Tipe Crow tidak ada di Papua, karena tipe Crow menentukan prinsip Matrilineal, yang mengizinkan anak-anak bisa mengikuti keturunan ibu dan mendapatkan hak warisan tanah. Tipe Crow dengan prinsip Matrilineal ini hanya ada beberapa suku di Bougainville, Salomon, Vanuatu dan Trobriand.

Jadi, Hawaian, Iroquois, dan Iroquois-Hawaian di Papua adalah mayoritas prinsip keturunan Patrilineal, tetapi dapat memungkinkan ambilineal secara terbatas pada suatu tempat dan waktu tertentu. Artinya, prinsip ambilineal ini memungkinkan anak perempuan dan sebagian keturunannya bisa mengikuti prinsip keturunan ibu dan mendapat warisan dari pihak ibu, tetapi terbatas hanya di tempat tertentu. Tidak mencakup seluruh wilayah suatu suku. Biasanya, dua atau tiga generasi kemudian, warisan tanah itu ditarik kembali bila tidak memenuhi kewajiban yang disyaratkan. Kewajibanya adalah selama masih menggunakan tanah itu diberikan kompenisasi kepada keturunan pihak ibu itu tanpa batas generasi (mirip kontrak tradisional). Jadi, prinsip ambilineal itu terikat oleh kewajiban tertentu. Maka sangat wajar, orang Papua pasti tidak setuju kalau orang-orang dari Ibu Papua dan bapak Non-Papua ambil kendali di tanah Papua ini. 

Tidak ada dasar atau alasan yang kuat bisa meyakinkan orang Papua soal ini, dasar satu-satunya adalah kekerabatan, khususnya tipe kekerabatan dan prinsip keturunan. Itu hukum alam. Prinsip keturunan itu ditentukan oleh tipe kekerabatan, tipe kekerabatan ditentukan oleh terminologi kekerabatan, dan terminologi kekerabatan itu juga menentukan posisi dan status anggota kerabat. 

Hubungan genealogi (misalnya kliam bahwa ada hubungan darah maka berhak) itu dapat ditentukan oleh kategori kekerabatan. Kategori kekerabatan ini memisahkan status, posisi, hak dan kewajiban. Kerabat mana berhak dan mana tidak. Dalam kategori kekerabatan, terminologinya dibedakan dari kerabat kolateral silang dan paralel, maka prinsip keturunan dan hak warisan tanah sudah pisah. Terminologi kategori kerabat kolateral sepupu silang itu beda dari sepupu paralel, maka status, posisi, hak dan kewajiabn sudah beda. Dia tidak bisa mendapatkan warisan dari pihak ibunya. Jadi, klaim hubungan darah ibu Papua itu tidak bisa diakui di sini.    

Sedang, anak angkat posisinya sangat terbatas, dan dia juga terikat pada kesetiaan dan kewiban kepada klen yang diangkatnya, dan sewaktu-waktu status anak angkatnya bisa dicabut.

Friday, September 13, 2024

Dr Ibrahim Peyon: 1 Danau dengan 5 Sungai Mengalir ke Seluruh Penjuru Bumi

Gambar Dr. Peyon

Satu pemandangan alam menarik, danau ini terletak di atas ke tinggian 3.605 meter di sebuah lembah, gunung-gunung sekitarnya mencapai 3.700-3.900 meter. Tempat ini menjadi bagian dalam sejarah perjalanan Yeli, dalam sejarah penciptaan dan persebaran manusia, meskipun tempat ini bukan pusat sejarah itu. Keajaibanya adalah dari danau ini keluar lima sungai besar dan mengalir ke berbagai arah. Mugi ke arah barat, Yahuli arah timur, Sibi arah utara, Heluk dan Seng arah selatan.

---------

Enam puluh tahun lalu, para misionaris bersama orang-orang tua kami berjuang untuk perkembangan injil, pendidikan, kesehatan, dan berbagai kemajuan saat ini. 
Mereka menghadapai berbagai tantangan, penghinaan, kemarahan, dan sebagian orang tua dan keluarga mereka telah kehilangan nyawa mereka. Banyak orang Yali di banyak kampung lain menolak Injil dan kemajuan saat ini, mereka mengatakan Injil itu milik sentan dan kemajuan berkembangan itu kejahatan dan injil akan merusak ekonomi dan kesuburan. Mereka mengatakan hanya usasum dan muruwal yang akan bawa kemakmuran, kesuburan, kekayaan, wibawa, dan mereka tetap mempertahankan Usasum dan Muruwal. Menurut mereka, usasum dan muruwal adalah segalanya, melalui muruwal laki-laki meningkatkan status mereka dan perempuan direndahkan. 
Orang yang ikut muruwal dianggap menjadi laki-laki sempurna, dan belum ikut muruwal dianggap belum menjadi laki-laki. Pandangan ini juga kita lihat dalam beberapa komentar dalam status ini. Tetapi, orang Yali tidak mengakui bahwa semua hal itu diciptakan oleh perempuan termasuk muruwal. Status seseorang menjadi laki-laki atau perempuan tidak ditentukan oleh usasum dan muruwal tetapi kodrati, status simbolisme laki-laki dan perempuan saat ini ditentukan oleh pendidikan, jabatan politik dan birokrasi, ekonomi dan bisnis, dan kemajuan pembangunan. 
Jadi, bila seseorang klaim status sebagai laki-laki secara simbolis dengan dasar muruwal dan usasum, tidak memiliki arti sama sekali. Karena status laki-laki simbolik usasum dan muruwal tidak mengubah dunia dan tidak bawa berubahan besar, sebaliknya yang ada adalah kejahatan dan ilmu sihir, dimana mereka yang ikut muruwal gunakan lukuram dan jenis ilmu hitam lain untuk niat jahat. Gunakan lukuram dengan niat jahat ini disebut ilmu sihir. Saat ini orang ditakuti karena status pendidikan tinggi, keahlian dan pengetahuan, dengan itu mengubah dunia. Itulah disebut laki-laki dalam konteks saat ini. 
Peristiwa itu terjadi 60 tahun lalu, oleh orang tua kita. Tetapi, fakta hari ini, Injil sudah berkembang dan besar. Injil telah membawa berbagai perubahan hingga saat ini. Banyak orang Yali terima injil, menjadi Kristen, banyak orang muda Yali sekolah, tahu baca dan tulis, dan bekerja di berbagai tempat. Termasuk mereka yang orang tuanya menentang injil dulu, mereka kini sudah maju.
Semua komentar yang ditulis di facebook ini adalah hasil perjuangan orang tua kami dulu itu, mereka berjuang maka kami tahu tulis dan membaca, tetapi mereka yang menentang injil itu dan tidak bisa menghadirkan kemajuan bagi orang Yali hingga mereka tua dan meninggal. Kami tidak lihat hasil mereka saat ini.
Hanya dalam waktu 60 tahun segala sesuatu telah berubah, dan saya yakin apa yang diperdebatkan hari ini di media sosial ini adalah bagian dari peristiwa 60 tahun ini. Saya yakin, 60 tahun ke depan akan berubah dan menerina kenyataan perubahan itu. 
Perbedaan pendapat dalam status facebook ini soal biasa, perbedaan pendapat itu tidak memisahkan persatuan dan bersaudaraan. Tuhan Yesus berkati kita semua.


Thursday, August 22, 2024

Dr Peyon Menjawab 001: Soal Kepala Suku, NKRI dan Dewan Adat Papua (DAP)


 Donny James

Bapak saya mau tanya tentang penyebutan kepala suku. ? Menurut saya kata kepala suku itu yang paling wajar di sebut di sebuah daerah apabila Dia mempunyai tanah adat tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang ini di Papua daerah2 telah bermukim beberapa kelompok masyarakat adat mereka mengangkat kepala suku mereka di daerah tersebut .. z minta tolong untuk Bapak jelaskan dari perspektif antropologi tentang kata/kalimat Kepala Suku ?

Ibrahim Peyon
Donny James Saudara James, di Papua tidak ada kepala suku, istilah kepala suku itu baru diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia untuk kepentingan PEPERA tahun 1969. Kemudian dilanjutkan oleh Rezim Suekarno untuk mempertahankan kepentingan partai Golkar dan rezim otoriternya. Karena itu, Orde baru perintahkan kepada pemerintahahnya di itingkat paling bawah seperti Camat dann desa untuk angkat para kepala suku di tiap kampung dan wilayah. Setelah reformasi, kepala suku dihilangkan, maka orang asli Papua bentuk DAP untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Pemerintah Indonesia melihat DAP lebih banyak memihak orang asli Papua maka, TNI membentuk LMA sebagai tandingan dan pak Lenis Kogoya diangkat sebagai kepala sukunya. Jadi, istilah kepala suku ini baru muncul sejak Indonesia datang di tanah ini untuk mempertahankan kepentingan nasional Indonesia di Papua. Kepemimpinan di Papua adalah berbasis klen, tiap klen memiliki satu pemimpin sendiri dan tiap suku memiliki istilah sendiri. Di seluruh melanesia hanya ada dua kepemimpinan, pemimpin pemilik tanah dan pempin yang diperoleh karena pencapaian. Tipe lain di Papua seperti di Raja ampat, Fakfak, dan Kaimana yang disebut sistem raja itu bukan asli tetapi, impor dari Maluku demi kepentingan kayu kuning, rempa-rempa dan burung kuning.

Friday, August 9, 2024

Dr Ibrahim Peyon: Ada beberapa orang tua menolak untuk menjelaskan alasan sakral

Pada waktu kecil di kampung, saya bertanya kepada orang-orang tua di rumah laki-laki kami mengenai asal usul buah merah (sak) dan buah pandan (hilak). Ada beberapa orang tua menolak untuk menjelaskan alasan sakral, tetapi ada beberapa orang lain bersedia menjelaskan itu. Salah seorang yang juga kerabat saya menjelaskan tentang asal usul buah merah yang diberi warna merah oleh perempuan dari darah menstruasinya sendiri. Karena itu, di masa lalu perempuan dilarang makan buah merah tanpa melalui ritus khusus (hal yiko). 

Lalu seorang kerabat lain mengajak saya ke pondoknya di kebun, setelah kami makan makanan yang sudah dimasak dengan sistem bakar batu, ia menjelaskan tentang asal usul buah pandan (hilak). Menurutnya, buah pandan putih itu tumbuh dari kepala seorang laki-laki yang sudah meninggal. Sesuai jenjinya, mayat orang itu diletakkan di sebuah tempat dekat goa, setelah mayat itu busuk dan dari kepalanya tumbuh buah pandan putih tersebut. Saya juga dengar ada beberapa versi lain, tetapi secara subtansi sama, buah pandan putih berasal dari kepala manusia.  

Asal usul hilak kontras dengan buah merah, buah merah berasal dari perempuan, sedang buah pandan putih ini berasal dari laki-laki. Karena itu ada beberapa sifat kontras kedua jenis tumbuhan ini. Buah merah ditanam; sedang buah pandan putih tumbuh sendiri (ditanam oleh kus-kus); buah merah berada di kampung; sedang buah pandan putih jauh di hutan; buah merah tumbuh tempat lebih rendah dan daerah iklim hangat; buah pandan putih tumbuh di wilayah ketinggian dan dingin; buah merah representasi metaforisme feminimitas; buah pandan putih representasi metaforisme maskulinitas; buah merah banyak mengandung kecerdasan otak, memperlancar peredaran darah, dan menjaga ketebalan tubuh dan menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Sedang buah pandan putih lebih banyak produksi hormon yang beberapa fungsinya seperti produksi sperma, fungsi seksual dan mendukung proses reproduksi, mendukung fungsi kognisi dan mendukung pertumbuhan dan berkembangan. 

Dalam teks itu saya temukan 14 elemen penting, dan masing-masing elemen dipenggal menjadi miteme dan dianalisa dengan menghubungkan aspek-aspek budaya lain. Sengaja ditulis dalam bahasa Jerman atau Inggris, dengan maksud meluruskan tulisan-tulisan orang asing yang banyak salahnya tentang budaya Melanesia.  

Di bawah ini teks yang dijelaskan oleh seorang kerabat tersebut kepada saya tahun 1990. Untuk menghargai informan dan mengabadikan kisahnya, saya menulis nama dalam tulisan saya.