Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Thursday, February 13, 2025

1867 - Seorang pemuda kampung tiba di Paris dengan kantong kosong

Tahun 1867. 
Seorang pemuda kampung tiba di Paris dengan kantong kosong. 

Dia anak bungsu dari 13 bersaudara. 

Backgroundnya? Cuma seorang anak petani dari Swiss.

Namanya?

César Ritz.

Kekurangan membuatnya berjuang lebih keras dari yang lain. 

Setiap hari, dia bangun paling pagi. Pulang paling malam. 

Bukan karena dia suka kerja rodi. Tapi karena menurutnya setiap moment adalah kesempatan untuk mengobservasi.

Saat ngepel lantai, dia perhatiin sepatu tamu-tamunya. Mulai cara jalannya hingga merek yang di pake. 

Kebiasaan melihat detail kecil ini yang nantinya jadi kunci kesuksesannya.

Saat beresin kamar, dia nyatet kebiasaan setiap tamu.

- Berapa bantal yang mereka pakai
- Di sisi mana mereka taruh barang
- Hingga jam berapa mereka biasa bangun

2 tahun kemudian, kerja kerasnya terbayar. 

Dia dipercaya melayani para elit Paris di restoran Voisin.

Nah di sini, observasinya semakin dalam. Dia menyadari sesuatu yang akan mengubah hidupnya:

"Orang kaya bukan beli kamar atau makanan. Mereka beli MOMEN untuk dikenang seumur hidup"

Contohnya?

Saat Paris dikepung Prusia tahun 1870. Semua restoran tutup karena krisis makanan. Tapi Voisin? Tetap buka.

Menu spesialnya? 

Daging gajah dari kebun binatang. Gila? 

Memang. 

Tapi tamu-tamu kaya rela bayar mahal.

Kenapa? Karena mereka beli cerita. 

"Gue makan daging gajah lho pas Paris dikepung”. 

Bukan makanannya yang penting. Tapi momennya.

Selama 27 tahun dia mempelajari setiap detail. 
Selama 27 tahun dia membangun koneksi. 
Selama 27 tahun dia menyempurnakan sistemnya.

Sampai akhirnya, tahun 1896. Dia siap dengan masterpiece nya: 

The Hôtel Ritz di Place Vendôme.

Lokasinya tidak sembarangan. 

Place Vendôme adalah jantungnya high society Paris. 

Tempat bangsawan tinggal dan Tempat raja dan ratu belanja.

Tapi bukan cuma lokasinya yang bikin beda. Setiap detail di hotelnya ini punya cerita:

1/ Kamar mandi private di setiap kamar. "Bangsawan nggak berbagi kamar mandi"
2/ Listrik di semua lantai. "Lilin? Itu buat rakyat biasa"
3/ Telepon di setiap suite. "Layanan 24 jam, tanpa harus teriak "
4/ Kasur king size untuk semua tamu "Tidur itu seperti raja, bukan seperti pelayan"

Di era dimana hotel masih pake lilin dan kamar mandi sharing, ini sangat revolusioner.

Tapi inovasi terbesar nya? The Ultimate Influencer Strategy (jauhh sebelum istilah ini lahir)

Dia secara personal mengundang raja dan ratu. Bukan untuk uang mereka. Tapi untuk presence mereka.

Logikanya simple: 

"Kalau raja tidur disini, siapa yang berani bilang ini bukan hotel terbaik?"
Strateginya berhasil melebihi ekspektasi.

Ernest Hemingway? "Membebaskan" bar hotel dari tangan Nazi pas PDII. Sambil minum dry martini tentunya hehe.

Coco Chanel? Bikin hotel ini rumah kedua selama 34 tahun. Suite 302 jadi saksi bisu banyak desain legendaris lahir.

Yang lebih jenius lagi? Ritz bukan cuma bikin hotel. 

Dia menciptakan standard baru. "Ritz" jadi lebih dari sekedar nama. 

Namanya digunakan untuk mendefinisikan kemewahan:

"Putting on the Ritz" 
"Living the Ritzy life" 
"That's too Ritzy"

Pelajaran paling berharga? Obsesi terhadap detail itu ternyata nggak pernah sia-sia. 

Kata-kata yang pernah dia ucapin di hari pertama buka: 

"The customer is always right"

Sekarang mungkin sudah klise. Tapi saat itu? Mindset yang revolusioner.

Anak petani yang dulu dibilang "nggak akan sukses" Sekarang namanya jadi standar kesempurnaan.

Lesson learned:

1/ Bikin kategori baru untuk mengalahkan kompetitor
- Tidak perlu selalu ikut pasar
- Ciptakan pasar baru
- Set standard baru

2/ Experience > Product
- Jual cerita, bukan produk (again)
- Ciptakan momen, bukan sekedar transaksi.
- Build legacy, bukan bisnis

3/ Network Effect
- Pilih circle dengan tepat
- Let others tell your story
- Ciptakan sesuatu yang layak dibicarakan

Source : ahmad Chaidir

Thursday, December 26, 2024

Pegunungan Koiali yang oleh kolonial Eropa mengubah nama menjadi pegunungan Owen Stanley

Pegunungan Koiali yang oleh kolonial Eropa mengubah nama menjadi pegunungan Owen Stanley (titik merah dalam peta), di gunung ini sebuah tempat bernama Haganumu adalah situs sejarah paling penting suku-suku yang mendiami di tiga Provinsi, Sentral Province, Oro Province dan Melne Bay Provonce. Suku-suku ini mengakui leluhur mereka keluar dari dalam tanah melalui sebuah lubang gua di gunung ini, tempat itu disebut Haganumu. Dari tempat inilah mereka menyebar ke berbagai tempat dan terbentuk menjadi klan, sub suku dan suku yang mendiami di wilayah tersebut. Studi arkeologi yang melakukan penggalian di sebuah tempat sebagai kampung tua yang pernah mendiami orang Papua, setelah migrasi dari puncak gunung, membuktikan bahwa di kampung tersebut telah dihuni 35.000 tahun lalu. Mengambil patokan dari itu, kampung-kampung di wilayah pegunungan tersebut telah dihuni 50.000 hingga 60.000 tahun lalu atau lebih jauh dari itu. Sementara itu, suku-suku di Teluk Papua, muara sungai Fly, Selat Torres dan pantai Australia (lingkaran merah) ini mengakui leluhur mereka bermigrasi dari dataran tinggi Papua (Pegunungan Tengah Papua). Berbagai studi arkeologi membuktikan penduduk di wilayah ini bermigrasi dari dataran tinggi 300 tahun lalu, mereka turun mengikuti sungai Fly, Sungai Purari dan Tauri hingga mencapai pantai. Lebih 50.000 tahun lalu orang Papua dan orang Aborigin pisah, namun hubungan genetik mereka masih ditemukan hingga sekarang. Sebuah studi genetik yang dilakukan dengan sampel Aborigin di Australia dan sampel orang Papua di PNG seperti suku Daga di ujung selatan PNG membuktikan 47% kesamaan genetik antara Papua dan Aborigin.

Sunday, November 24, 2024

Sungai Rirum - Tempat sejarah suku-suku di sekitar Huon dan tempat asal usul buah merah

Sungai Rirum. Tempat sejarah suku-suku di sekitar Huon dan tempat asal usul buah merah di wilayah ini. Dalam bahasa Rirum buah merah disebut sirun danwam. Dalam budaya Yali bibit buah merah diberikan oleh roh bersama seorang gadis roh setelah seorang pria pergi ke dunia roh dan tumbuhan ditanam dan berbuah tetapi tidak menjadi merah. Sesuai janji seorang tua dari dunia roh merupakan ayah dari perempuan itu, sebuah tanaman itu berbuah jangan sentuh istrimu. Pria itu menaati perintah itu, hingga buah itu berbuah dan istrinya ambil menstruasinya dan buah itu berubah menjadi merah dan menghasilkan lemak merah (sak amuk). Dalam budaya suku-suku di Huon lemak merah keluar dari sebuah lubang batu, lubang batu itu berbentuk kelamin perempuan. Seorang pria pemilik lokasi itu menemukan dan menimpa lemak itu. Ini tersebar di seluruh Huon, Koroka, Hagen, dan Madang dan sekitarnya. Suatu hari seorang wanita lain mengambail lemah yang di simpan suaminya dan ditumpahkan maka mereka bertengkar. Semut merah (leng) makan lemak itu dan kejar hingga di lubang batu itu dan menghabisi semua lemak termasuk lubang dan tinding hingga masuk ke dalamnya. Perempuan batu pemilik lubang kelamin wanita itu merasa sakit karena kelaminnya hingga bagian dalam tubuhnya dimakan oleh semut merah. 

Suatu hari perempuan batu itu muncul dalam mimpi dan beritahu pria pemilik lokasi itu, bahwa lemak ini akan muncul dalam bentuk lain, sebuah jenis tumbuhan dan buahnya akan berubah menjadi merah. Lemak itu diambil dari buah tersebut dan dimakan. 

Keesokan harinya, dari lubang batu berbentuk vagina itu menghasilkan bibit jenis-jenis tumbuhan buah mereka dan tumbuh di sekitarnya. Pria pemilik lokasi itu mengambil bibit buah itu dan ditanam kemudian berkembang dan tersebar di seluruh sulu-suku di Papua New Guinea. 

Dalam budaya Yali semua jenis buah merah memiliki nama, demikian juga dalam budaya Rirun dan suku-suku di sekitarnya. 
Dalam bahasa Yali: Maling, leplep, anggiluk, heiba, wesi, wayo, punding, saluwan, olomuk, pangie, sinal, narikiak, elebet, olomuk, wesuhu, alambili, dll. Lebih dari 40 jenis buah merah dengan nama-namanya sendiri. 

Dalam budaya Rirun: somai, watawet kiris, watawet tafun, sapam, moar, wangum, garang guntib, giragajang, gumam, karang, fiman, sagatsang, unsit, sagakat dan banyak jenis lain.  

Sejarah asal usul buah merah dari kedua suku ini sama, pertama bibit buah merah diberikan oleh roh, kedua lemak buah berwarna merah berasal dari perempuan, ketiga dimasa lalu perempuan dilarang makan buah merah. Keempat tiap jenis buah merah memiliki nama sendiri.

Sunday, September 29, 2024

Tindak Kekerasan Manusia terhadap Terobosan Ilmu Pengatahuan dalam Sejarah Manusia

Riwayat Martir di Dunia dan di Melanesia

Sangat menarik untuk kita simak dalam sejarah modern bahwa banyak ilmuwan yang mengemukakan pendapat atau teori yang bertentangan dengan apa yang dipandang umum mendapatkan tantangan tidak sedikit, sampai mereka dibakar hidup-hidup.

Dibandingkan dengan martir di Melanesia, kita lihat dalam bagian terakhir dalam tulisan ini bahwa fenomena yang kita alami di Melanesia ialah "pengabaian", "pelupaan" dan setelah itu di sisi lain mempromosikan gagasan-gagasan dari luar, yang bersifat menghancurkan orang Melanesia sendiri.

Secara umum masyarakat Melanesia dipandang sebagai masyarakat yang malas berpikir, masyarakat yang tidak rajin dalam menekuni berbagai pekerjaan, apalagi orang Melanesia tidak perlu banyak berpikir karena alam sekitar telah menyediakan berbagai hal kebutuhan sehari-hari secara melimpah. Akan tetapi kita tidak sadar bahwa dengan kehadiran teori "Survival of the Fittest", dan tekanan perubahan dari luar, maka sebenarnya eksistensi dan kehidupan orang Melanesia sebenarnya telah terancam dan akan terus terancam sampai berabad-abad mendatang.

Kalau kita baca gagasan para tokoh Melanesia yang telah dikemukakan selama ini, mereka bertujuan untuk menyelamatkan orang Melanesia, akan tetapi sayangnya telah lama diabaikan entah sengaja atau karena tidak paham.

Riwayat Manusia dan Tindak Kekerasan atas Terobosan Baru

Eksekusi Giordano Bruno, Jan Hus, William Tyndale, Jacques Delay, dan Girol Savonarola sangat digelar dengan konteks agama, politik, dan sosial zaman mereka. Setiap individu ini menantang otoritas dan kepercayaan yang ditetapkan, yang akhirnya menyebabkan nasib tragis mereka. Melalui ideologi dan tindakan mereka, mereka meninggalkan dampak abadi pada masyarakat dan terus diingat sebagai martir untuk kepercayaan mereka.


Giordano Bruno adalah filsuf Italia, ahli matematika, dan astronom yang tinggal pada akhir abad ke-16. Dia adalah koordinat proponent, yang menantang model geocentric dari alam semesta yang didukung oleh Gereja Katolik. Selain teori kosmeologi, Bruno juga mempertanyakan dogma tradisional Gereja dan dianjurkan untuk penafsiran yang lebih spiritual dari cosmos. Keyakinan ini membawanya ke konflik langsung dengan Akuisisi Romawi, dan ia akhirnya dituduh dari sinisy dan terbakar pada saham dalam 1600.


Jan Hus adalah imam Ceko dan reformer yang tinggal pada awal abad ke-15. Dia adalah kritikus vokal dari korupsi dan kecakapan Gereja Katolik, advokasi untuk kembali ke lebih sederhana, praktik Kristen yang lebih bergengsi. Hus juga mempertanyakan wewenang Paus dan keramahan yang dijual oleh Gereja. Ide-idenya mendapatkan popularitas di antara orang-orang Ceko, tetapi dia akhirnya dihukum sebagai loteng dan dibakar pada saham pada 1415 di Dewan Kekurangan.


William Tyndale adalah seorang sarjana Inggris dan teologi yang hidup selama awal abad ke-16. Dia adalah sosok utama dalam Reformasi Protestan dan yang paling dikenal untuk terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Tyndale percaya bahwa setiap orang Kristen harus memiliki akses ke Kitab Suci dalam bahasa aslinya, daripada bergantung pada versi Vulgate Latin yang digunakan oleh Gereja Katolik. Pekerjaan terjemahannya dipandang sebagai tantangan langsung terhadap wewenang Gereja, dan dia ditangkap, mencoba untuk sinisy, dan dieksekusi oleh strangulation dan terbakar pada saham dalam 1536.



Jacques De Molay adalah Grand Master terakhir dari Knights Templar, pesanan militer Kristen yang kuat selama periode abad pertengahan. Pada awal abad ke-14, Raja Philip IV Perancis meluncurkan kampanye untuk menekan Templar, menuduh mereka dari sinisy dan korupsi. De Molay ditangkap, mencoba, dan akhirnya terbakar pada saham pada 1314. Eksekusinya menandai akhir Order Templar dan tetap menjadi simbol perjuangan daya antara raja dan lembaga agama selama Abad Pertengahan.


Girolamo Savonarola adalah friar Italia dan preacher yang tinggal pada akhir abad ke-15. Dia memperoleh fame di Florence untuk sermons fiery denouncing korupsi dan dekade dari kelas ruling kota. Savonarola disebut untuk kembali ke cara hidup yang lebih rohani dan moral, memimpin gerakan yang dikenal sebagai "Bonfire of Vanities" di mana benda sekuler dan tidak bermoral dibakar secara publik. Namun, kritik dan ambisi politik akhirnya menyebabkan kejatuhannya. Savonarola dikomunikasikan oleh Paus, ditangkap, dan dieksekusi dengan menggantung dan terbakar pada 1498.

Pelaksanaan Giordano Bruno, Jan Hus, William Tyndale, Jacques Delay, dan Girolamo Savonarola adalah peristiwa penting yang mencerminkan dinamika daya dan konflik periode historis masing-masing. Setiap individu ini menantang otoritas agama dan kepercayaan, mendorong batas-batas pemikiran dan tindakan yang dapat diterima. Kegigihan mereka dilayani sebagai kritik untuk pemformatika masa depan dan revolusioner, generasi yang menginspirasi untuk mempertanyakan otoritas dan mencari kebenaran dan keadilan.

Pembunuhan para parintis ini memiliki dampak mendalam pada masyarakat, baik pada saat kematian dan pada abad-abad yang diikuti. Kekukuhan mereka dalam menghadapi penganiayaan dan komitmen mereka yang tak berubah terhadap kepercayaan mereka telah meninggalkan warisan abadi yang terus memenangi orang di seluruh dunia. Melalui pengorbanan mereka, mereka menantang status quo, mendorong batas-batas pemikiran yang dapat diterima, dan membuka jalan untuk generasi mendatang untuk melanjutkan perjuangan kebebasan, keadilan, dan kebenaran.

Tantangan bari Terobosan Lanjutan dalam Kehidupan Manusia di Melanesia

Di kalangan Melanesia ada banyak terobosan telah dilakukan. Kebanyakan dalam sejarah Melanesia, para perintis tidak dibunuh, akan tetapi mereka diabaikan, dan dengan mengabaikan mereka, kita secara sadar ataupun tidak sadar, telah membunuh bibit-bibit warisan nenek-moyang kita yang seharusnya seharusnya bermanfaat, oleh karena orang Melanesia lebih merasa terhibur mengikuti jalan pikiran orang barat yang kelihatan indah, teratur baik dan menjanjikan.

Bernard Narakobi dan "The Melanesian Way"

Bernard Narakobi dan "The Melanesian Way" adalah contoh pertama yang kita perlu angkat. Kalau dilihat beliau adalah satu-satunya filusuf Melanesia yang sampai saat ini belum tergantikan. Pemikiran-pemikirannya tidak disambut secara antusias di dalam negara Papua Niugini. Walaupun beliau salah satu perancang fondasi negara itu, dan setelah kemerdekaan Papua Nugini beliau terlibat dalam berbagai kapasitas untuk memajukan banyak pemikirannya selama puluhan tahun. Akan tetapi akademisi dan politisi Papua New Guinea, karena diracuni oleh pemikiran dan teori-teori barat, entah sengaja atau karena kekurang-tahuan mereka, maka mereka telah mengabaikannya dan kini beliau tidak dihargai lagi sebagaimana seharusnya.

Father Walter Lini dan Melanesia Socialism


Father Walter Lini adalah pendiri dan proklamator Negara Republik Vanuatu. Beliau telah mencetuskan dan mempromosikan gagasan Melanesian Socialism.

Akan tetapi dalam perjalanan waktu tidak pernah ada seorang akademisi Melanesia atau Vanuatu yang mendalami dan mempromosikan gagasan ini. Malahan gagasan ini dilupakan atau dengan sengaja dikesampingkan dan disampahkan.

Sering disebut dalam even-even tertentu, akan tetapi tidak pernah dihargai dan dipaparkan sebagaimana seharusnya.

Kutipan terkenal Father Lini adalah 

"Vanuatu is not Free until Melanesia is free. Artinya: Vanuatu tidak merdeka sampai semua Melanesia merdeka".

Dr Thom W. Wainggai - Negara Papua Barat Melanesia

Dr. Thom Wainggai adalah seorang sarjana Papua Barat terkemuka, pemimpin politik dan budaya, filsuf, dan nasionalis. Ia memainkan peran penting dalam mengadvokasi penentuan nasib sendiri Papua Barat dan identitas Melanesia.

Ia adalah salah satu pemimpin Papua Barat yang disegani dan seorang advokat yang kuat untuk hak-hak orang Papua Barat.

Dr. Thom menekankan identitas Melanesia orang Papua Barat, menegaskan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri.

Mendeklarasikan Negara Melanesia: Pada tahun 1988, ia mendeklarasikan berdirinya Negara Melanesia di Jayapura, Papua Barat. Tindakan pembangkangan ini menantang kekuasaan Indonesia dan memicu perhatian internasional.

Dipenjara dan Diasingkan: Atas tindakannya, Dr. Thom dipenjara dan kemudian diasingkan dari Papua Barat. Meskipun menghadapi penganiayaan, ia terus berjuang untuk kemerdekaan Papua Barat. Warisan Dr. Thom Wainggai terus menginspirasi para aktivis dan pendukung Papua Barat di seluruh dunia. Kontribusinya terhadap perjuangan penentuan nasib sendiri dan pengakuan identitas Melanesia sangat berharga.

Sem Karoba dan Gagasan Demokrasi Kesukuan


Dalam bukunya "Tribal Democracy: The Way Forward," Sem Karoba menyajikan konsep berani dan inovatif yang menantang gagasan tradisional demokrasi dengan menggambar inspirasi dari struktur tata kelola tribal. Demokrasi Kesukuan menggabungkan prinsip-prinsip pembuatan keputusan partisipatif, pembuatan konsensus, dan akuntabilitas masyarakat yang telah lama dipraktekkan dalam masyarakat tribal asli dengan prinsip-prinsip demokrasi modern.

Demokrasi Kesukuan berintikan prinsip-prinsip kecenderungan, konsensus, dan keberlanjutan. Dalam sistem Demokratis Kesukuan, setiap anggota komunitas memiliki proses pembuatan suara, dan keputusan dicapai melalui konsensus daripada aturan mayoritas. Hal ini memastikan bahwa kebutuhan dan perspektif dari semua anggota masyarakat diperhitungkan, yang mengarah pada hasil yang lebih adil dan hanya. Selain itu, Demokrasi Kesukuan menekankan pentingnya keberlanjutan jangka panjang dan kelayakan lingkungan, sebagai keputusan dibuat dengan kesejahteraan generasi masa depan dalam pikiran.

Salah satu keuntungan utama dari Demokrasi Kesukuan adalah fokusnya pada kohesi masyarakat dan ketahanan. Dengan mendorong ikatan sosial yang kuat dan rasa tanggung jawab bersama, sistem Demokratis Kesukuan dapat membantu membangun komunitas yang lebih tangguh yang lebih dilengkapi dengan tantangan alamat dan krisis. Selain itu, Demokrasi Kesukuan memprioritaskan kesejahteraan semua anggota masyarakat, termasuk populasi yang rentan dan rentan, yang menyebabkan tata kelola yang lebih inklusif dan adil.

Namun, ada juga tantangan untuk menerapkan Demokrasi Kesukuan di masyarakat modern. Salah satu tantangan utama adalah potensi konflik dan perselisihan untuk menghambat proses pengambilan keputusan. Membangun konsensus dapat menjadi proses yang memakan waktu dan kompleks, yang membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk berkompromi dari semua pihak yang terlibat. Selain itu, Demokrasi Kesukuan telah menghadapi resistensi dari struktur daya yang terkuat dan elit politik yang tahan terhadap perubahan. Kata "Suku" yang digunakan dalam judul "Kesukuan" telah membuat banyak pihak dengan serta-merta dan sangat tegas menolak gagasan ini. Bahkan serangan secara fisik yang berakibat mendatangkan kematian atas keluarga, orang tua dan anak-anak pun telah terjadi secara nyata. Tulisan-tulisan di media sosial dan di internet dapat dilacak, yang menunjukkan serangan-serangan yang masif diarahkan menentang gagasan ini.

Meskipun tantangan ini, ada contoh sistem demokratis kesukuan yang sukses yang menawarkan wawasan berharga dalam potensi teori politik ini. Sebagai contoh, Konfederasi Iroquois di Amerika Utara dan suku Maori di Selandia Baru memiliki tradisi lama pembuatan keputusan demokratis yang memprioritaskan konsensus dan kesejahteraan masyarakat. Sistem ini terbukti efektif dalam mempromosikan kohesi sosial dan tata kelola berkelanjutan.

Dibandingkan dengan bentuk demokrasi tradisional, Demokrasi Kesukuan menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan berpusat masyarakat untuk tata kelola. Sementara demokrat tradisional sering memprioritaskan hak dan kebebasan individu, Demokrasi Kesukuan menempatkan penekanan yang lebih besar pada kesejahteraan kolektif dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Pergeseran ini dalam fokus dapat menyebabkan hasil yang lebih adil dan inklusif, terutama untuk populasi yang dapat diabaikan dalam sistem demokratis tradisional.

Demokrasi Kesukuan menyajikan visi yang menarik dan inovatif untuk masa depan tata kelola yang menarik pada kebijaksanaan dan praktik masyarakat tribal asli. Dengan menggabungkan prinsip-prinsip pembuatan keputusan partisipatif, pembangunan konsensus, dan keberlanjutan, Demokrasi Kesukuan menawarkan kerangka baru untuk mendorong masyarakat inklusif dan tangguh. Meskipun ada tantangan untuk menerapkan Demokrasi Kesukuan di masyarakat modern, potensi manfaat pendekatan ini menjamin eksplorasi dan pertimbangan lebih lanjut. Ketika kita menavigasi kompleksitas dan ketidakpastian abad ke-21, memeluk teori politik baru dan transformatif seperti Demokrasi Kesukuan dapat menawarkan jalan menuju masa depan yang lebih sederhana dan berkelanjutan.


Wednesday, July 10, 2024

DR IBRAHIM PEYON: ASAL USUL DAN PERSEBARAN MANUSIA DI PASIFIK

Selama saya mengasuh kuliah teori antropologi, dan setelah baca buku-buku antropologi tentang teori evolusi, migrasi  dan difusi muncul jiwa pemberontakan dalam diri saya, bahwa teori evolusi ala Barat /modern tentang asal usul dan migrasi manusia di wilayah ini tidak bisa diterima sepenuhnya. Karena ada alasan-alasan mendasar, beberapa diantara sebagai berikut: 

Pertama, bukti-bukti yang mereka ajukan tidak konsisten dan limit waktu yang telah ditentukan selalu berubah-ubah sesuai dengan usia penemuan materi baru. 

Kedua, penemuan tengkorak dan materi arkeologi dan antropologi fisik tentang fosil dilakukan melalui petunjuk yang diberikan oleh masyarakat asli setempat sebagai pemilik sejarah warisan tersebut. Artinya penemuan materi itu bukan sesuatu hal yang baru, tetapi sudah tersimpan bertahun-tahun oleh masyarakat pemilik budaya tersebut. Arkeolog hanya datang, mengambil benda yang dimiliki oleh masyarakat dan menentukan usia melalui analisa tertentu. 
 
Ketiga, dalam etnografi yang digambarkan jelas, tetapi kesimpulan yang diambil selalu dibelokan.

Keempat, teori migrasi yang dibangun ke Pasifik dan Australia mengikuti jalur yang pernah di lewati oleh kolonial Eropa demi kepentingan kolonialisme mereka, maka ini dinilai sebagai teori pembenaran kolonialisme itu.

Kelima, teori Trihibrid oleh Birdsell tentang tiga gelombang migrasi manusia dari Sundaland ke Sahuland tidak terbukti secara materi baik, materi arkeologi maupun hubungan genetik, karena itu banyak antropolog tolak teori ini. Birdsell sendiri tidak menunjukkan bukti-buktinya. Dalam rangka untuk membuktikan teori itu, studi genetik tahun 2022 yang melibatkan banyak ahli dari berbagai universitas dengan sampel dari Asia, New Guinea dan Aborigin Australia, menemukan tidak ada hubungan genetik antara Asia dengan Aborigin dan Papua. Aborigin dan Papua konsisten 90-100 persen independent, tidak terhubung dengan Asia. Ada hubungan DNA Eropa dan Asia ditemukan di Australia dan New Guinea itu setelah kontak dengan Eropa, dan lebih jauh ke belakang adalah terkait kontak dengan penutur Austronesia. Dengan itu, studi ini menyimpulkan bahwa tidak pernah terjadi gelombang migrasi satu, dua dan tiga seperti disebutkan oleh Birdsell dalam teori Trihibridnya tentang gelombang migrasi tiga ras itu yakni: ras Oseanik Negritos dari Andama, Malasya dan Filipina; ras Carpertarians dari India; dan ras Murrayan dari Ainu di Jepang. Birdsell dan ilmuwan lain selama ini klaim tiga ras itu menurunkan orang Papua dan Aborigin saat ini. Penelitian terbaru ini membuktikan bahwa orang Aborigin dan Melanesia menempati wilayah mereka hanya sekali, sejak mereka ada di Benua Sahul. 

Keenam, tahun 2008 ada hominid baru ditemukan di Siberia, tangan kelangkang dari seorang gadis kecil yang diberi nama Denisovan sesuai nama gua tempat penemuan tulang itu. Denisovan adalah seorang gadis yang usianya diperkirakan 40.000 tahun. Para ahli perkirakan sekitar, 2,7-5% genetik homo ini ditemukan diantara penduduk yang mendiami di pulau-pulau pantai utara New Guinea, tetapi di tanah besar New Guinea tidak ditemukan hubungan genetik dengan Homo ini. Hal ini masuk akal karena proses migrasi penutur Austronesia dan kompleks budaya Lapita di wilayah tersebut terjadi sejak 3.000 tahun lalu. 

Sebuah studi lain adalah penemuan hominid baru tahun 2016 sebagai leluhur orang Papua Melanesia dan Aborigin di Australia. Penemuan genetik dari Homo baru ini membuktikan bahwa orang Melanesia dari Fiji ke Raja Ampat berasal dari campuran DNA homo ini, sebagian orang di Maluku dan orang asli Australia juga telah diidentifikasi keturunan dari homo yang sama ini. Mereka hubungkan dengan teori evolusi keluar dari Afrika itu, dan diperkirakan leluhur Aborigin dan Papua keluar dari Afrika 72.000 tahun lalu, dan menduduki Sahul sekitar 50.000 tahun lalu. Tetapi, teori ini bertolak belakang dengan penemuan materi di Huon yang berusia 61.000 tahun lalu. Jauh sebelum 11.000 tahun dari perkiraan teori mereka. Hal ini mengambarkan para ahli sulit menemukan asal usul orang Papua dan Aborigin, dan hanya orang asli Papua dan Aborigin yang tahu rahasia ini. Akan tetapi, yang penting adalah Aborigin dan Papua berasal dari satu hominid yang belum teridentifikasi dan dinyatakan oleh para ahli sebagai keturunan manusia yang paling tertua.  

Selama tiga tahun lebih, saya meneliti sejarah penciptaan dan persebaran orang Papua dan Aborigin di Australia melalui berbagai referensi dan cerita masyarakat asli. Saya merasa terheran-heran, karena semua cerita ini memiliki suatu kesamaan, bahwa leluhur orang Papua dan penduduk asli Australia itu berasal dari Pulau New Guinea. Oleh karena itu, orang Aborigin sebut New Guinea "Muggi Dowdai” atau Negeri Besar, meskipun secara realita Australia  Benua besar. Tetapi, yang dlihat bukanlah ukuran benua, melainkan sejarah asal usul manusia.

Saya baca buku-buku etnografi orang pegunungan di PNG dari suku-suku kelompok Min yang pusatnya di Telefomen, atau suku-suku ke sebelah timur dari Oksapmin, Hewa, Duna, Yogaya, Hela, Enga dan Melpa, mereka menyatakan leluhur mereka berasal dari sebelah barat New Guinea. Saya juga baca buku-buku etnografi dari suku-suku di sebelah barat dataran tinggi New Guinea, seperti Lani, Damal/Amungme, Mee, dan Moni, dan mereka bilang leluhur mereka datang dari arah timur. 

Semua menunjuk di bagian tengah dataran tinggi New Guinea, ini berbeda dengan sejarah di kepala burung dan pulau-pulau yang saya baca. Tetapi, di Pulau Biak misalnya ditemukan ada kesamaan, karena leluhur orang Biak sepasang suami-istri itu datang dari timur dan terdampar di sebuah bukit di Biak Utara. Meskipun Biak secara linguistik penutur bahasa Austronesia. 

Setelah saya baca ini, saya ingat kembali dalam suatu seminar yang diadakan oleh DAP dan DPRP di Grand Hotel padang Bulan, dimana saya menjadi salah satu pemateri bahwa beberapa peserta dari pantai selatan khusus Asmat dan beberapa dari pantai Utara mengatakan bahwa leluhur mereka turun dari gunung. Kisah ini sama dengan buku etnografi yang saya baca tentang orang Waropen, sebagian klen mereka turun dari pedalaman. 

Selain itu, saya juga menemukan banyak klen yang sama tersebar di banyak suku yang secara geografis perjauhan, seperti klen Giay di Paniai dan Genyem, Kambu di Ayamaru dan Sentani, klen Sama di Yalimu, suku Mek, Boven Digul dan Bade di suku Yaghai, klen Wenda/Wonda di suku Lani dan Wanda di Serui/Wandamen, klen Malo di Pegununggan Bintang dan di Genyem, Klen Wanane di Maybrad, Wanahe di Moor Nabire, dan Wanena di suku Lani di Puncak, ada klen Mawen di Marind dan klen Mawel/mabel di Hubula, Yali dan Walak, Alua di lembah Balim dan Yali, Olua di Sentani, dll. Meskipun, kadang berbeda dengan sejarah penciptaan dari tiap suku yang ada, tetapi menurut saya perbedaan itu sebagai proses evolusi, adaptasi alam, dan proses akulturasi.  

Berdasarkan itu, kesimpulan sementara saya bahwa leluhur orang Papua itu pertama kali muncul di salah satu tempat di dataran tinggi New Guinea kemudian tersebar ke seluruh Melanesia, Australia, Polinesia dan Mikronesia, termasuk ke Maluku dan Timor, khusus penduduk yang berbicara bahasa Papua seperti di Alor dan 10 etnik di Halmahera Utara. 

Saya sebut Polinesia dan Mikronesia, karena hampir semua buku etnografi yang saya baca tentang etnik dan ras di Polinesia dan Mikronesia mengatakan banyak materi yang ditemukan di wilayah-wilayah itu adalah fosil orang Papua. Di Kuam dan Republik Mikronesia misalnya, ada banyak penemuan tengkorak orang Papua, dan ada ciri bercampuran antara ras Papua dengan Mikronesia. Di pulau Ester paling ujung timur dari Polinesia ditemukan tengkorak orang Papua berusia 30.000 tahun dan ada ciri-ciri percampuran Papua dan Polinesia di sana. Di pulau utara Selandia Baru misalnya, penemuan tengkorak 46% yang berusia 40.000 tahun adalah tengkorak orang kulit hitam. Jadi, jelas bahwa sebelum leluhur Polinesia dan Mikronesia saat ini, wilayah-wilayah itu telah dihuni orang Melanesia.  

Berdasarkan studi literatur selama tiga tahun lebih ini, kesimpulan sementara, saya digambarkan dalam Gambar di bawah ini. Bila ada yang ingin berdebat silahkan.

Mengapa digambarkan demikian? Teori evolusi belum selesai, para ahli masih berdebat teori monogenesis dan Poligenesis, ada penemuan Hominid yang berbeda di wilayah yang berbeda, teori migrasi lebih banyak dihubungkan di pesisir dan pulau, tetapi populasi asli di berbagai pulau dan benua konsisten mendiami pedalaman, banyak fosil yang ditemukan dari daerah pesisir, tetapi belum banyak yang ditemukan di pedalaman. Para ahli melihat sesuatu dari luar, menduga-duga, seperti seorang asal pegunungan Papua turun ke Danau Sentani, duduk di pinggir danau itu dan mengatakan ada babi besar hidup dalam Danau Sentani. Ia tidak tahu kalau di dalam Danau Sentani ada berbagai jenis ikan. Itulah yang ditulis oleh ahli tentang asal-usul manusia Melanesia, Australia dan Pasifik. 

Maka kesimpulan limit waktu yang ditentukan oleh ahli arkeologi adalah penemuan fosil dan materi dari pesisir pantai, yang baru terjadi beberapa ribu tahun lalu. Ini juga kita bisa dihubungkan jauh ke belakang di masa klasial, pemisahkan pulau satu dengan lain dari benua pangea akibat pencairan es, dan penghuni di pulau-pulau itu, ada arus migrasi di pesisir dan ada pemukim asli tetap di pedalaman. Teori ini, kita di Melanesia jelas ada migrasi penutur Austronesia dan proto Melanesia sebagai penduduk asli, ada percampuran di pulau-pulau pantai utara, Polinesia, Mikronesia termasuk Maluku antara penutur bahasa Papua dan Austronesia.

Migrasi yang berkaitan dengan penutur Austronesia dan sebaran budaya Lapita jelas, dan tidak diberdebatkan, proto Melanesia dan Aborigin tidak berkaitan dengan itu. Teori evolusi tentang asal usul manusia dan sejarah persebaran yang dibahas ini adalah dalam konteks terakhir ini, orang Papua-Melanesia yang penutur bahasa Papua dan orang Aborigin Australia sebelum kontak dengan Eropa dan Asia. Apa yang digambarkan dalam gambarkan di bawah ini berangkat dari teori-teori orang asli Papua dari berbagai suku di New Guinea bahwa leluhur mereka tidak datang dari luar New Guina. Teori-teori mereka didasari dengan sejarah penciptaan dan persebaran yang diwariskan secara rahasia karena suci dan sakral, itu diwariskan hanya kepada orang tertentu yang dianggap bisa menjaga rahasia. Teori orang asli Melanesia mendapat dukungan dengan sebaran bahasa Papua, penemuan fosil dan tengkorak manusia yang ditemukan oleh antropologi dan arkeologi, penemuan hominid dan DNA yang terisolasi. Meteri-materi itu telah membuktikan bahwa teori asli orang-orang Papua itu mendapat dukungan kebenaran ilmiah.
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/FkAPgSNSq3pAUna5/?mibextid=oFDknk