Monday, November 30, 2020

7 Buku soal Papua yang Dilarang Indonesia tetapi Penting Dibaca & Didiskusikan

“Indonesia besar dan kaya karena mengeruk kekayan Bangsa West Papua.”

KALIMAT menohok itu keluar dari mulut Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda, kepada saya saat merespons tindakan kelompok ultra-nasionalis Indonesia terhadap Vanuatu, awal bulan lalu. Beberapa media massa menyerang dengan mendefinisikan Vanuatu sebagai: wilayah yang masih mempraktikkan kanibalisme, negara dengan wilayah hanya se-ujung kuku, dan negara yang doyan mengusik Papua—informasi ini sebagai mereka ambil dari Wikipedia.org.

Segendang sepenarian dengan itu, seorang diplomat asal Indonesia bernama Silvany Austin Pasaribu juga berkomentar dangkal ke Vanuatu. Menurutnya, Vanuatu tak berhak mempromosikan hak masyarakat adat. Sebenarnya soal ini, sudah jauh hari dikritik oleh Sendius Wonda—yang pernah menjadi Bupati Nabire, yang mana intinya Indonesia hanya terlibat dalam deklarasi PBB terkait hak masyarakat adat, namun tak pernah ada eksekusi.

Bisa jadi, Silvany belum membaca buku Wonda karena dilarang peredarannya—salah satu buku yang akan saya ulas di sini.

Kembali ke pernyataan Wenda, ucapan itu mengingatkan kita terkait pernyataan Walter Hadye Lini yang disampaikan perwakilan Vanuatu, dalam Sidang Umum PBB ke-25 tahun 2000 lalu. Kurang lebih dia bilang begini: kami mungkin tidak memiliki sumber daya untuk mendukung perjuangan mereka [Papua], tetapi kami dapat mengingat mereka dalam doa kami setiap hari. Ketika kita berbicara tentang perjuangan mereka, kita harus selalu menggunakan nama yang sangat mereka sayangi yaitu, West Papua. Vanuatu tak ingin penindasan terhadap Timor Timur juga terjadi di West Papua.

Bahkan jauh sebelum itu, pada Sidang Umum PBB ke-14 tahun 1983 lalu, Walter lantang mengkritik brutalitas militer Indonesia yang membantai masyarakat sipil di Timor Timor. Sebagai teman sejati Indonesia, ia bilang, Vanuatu menentang invasi, pendudukan, dan aneksasi Timor Timur oleh Indonesia.

Selain itu, mantan Perdana Menteri Vanuatu, Barak Tame Sope Maautamate, berhasil mempertemukan dua pimpinan faksi Organisasi Papua Merdeka (OPM), yaitu Seth Jafet Rumkorem dan Jacob Prai. Seth memimpin OPM Markas Victoria (Mavik), sedangkan Jacob pimpinan OPM Pembela Keadilan (Pemka). Upaya ini yang tak mampu dilakukan Pemerintah Indonesia. Jangankan bertemu, mendengar pendapat saja tidak.

Saya sengaja menjadikan isu ketegangan antara Indonesia dengan Vanuatu sebagai pengantar daftar bacaan ini. Sebab, menurut saya, inilah bentuk nyata sensor sporadis yang terjadi baru-baru ini. Itu risiko bagi mereka yang mengkritik pelanggaran HAM pemerintah Indonesia di Papua.

Saya ingin merekomendasikan sehimpun buku mengenai Papua yang pernah dilarang secara legal oleh negara Indonesia. Seluruh buku yang ada di dalam daftar bacaan ini telah mengantongi International Standard Book Number (ISBN) dan pelarangannya melalui rekomendasi tim clearing house. Tokoh kunci pelarangan buku-buku ini ialah Hendarman Supandji—mantan Jaksa Agung periode 2007-2010.

Tujuh buku ini bisa menjadi saluran alternatif jika kita ingin memahami Papua lebih jauh. Serangkaian buku ini akan membantu menjernihkan pikiran kita dari berbagai noda manipulatif yang dibangun dan dipertahankan puluhan tahun oleh negara Indonesia. Kita akan paham bagaimana Indonesia merambah dan memeras Papua untuk membangun Jakarta. Sisanya dibiarkan terhampar luas, dipersiapkan untuk kompleks pemakaman massal. Ini pencurian terorganisir.

Ketika membaca buku-buku di dalam daftar ini, kita akan dibingungkan dengan mengapa ada banyak pihak—semisal Wenda dan Vanuatu—yang menyebut Papua dengan “West Papua”? Mengapa demonstrasi para mahasiswa menyerukan “Papua Merdeka”? Bagaimana dengan Irian Jaya dan Papua Barat?

Begitu juga, mengapa hanya ada Otsus Papua? Bagaimana dengan Otsus Papua Barat? Pada 2008, Papua Barat baru mendapatkan dana alokasi khusus. Proses itu terjadi melalui UU No. 35 tahun 2008, yang menyebutkan Papua Barat sebagai ruang lingkup dari Otsus Papua. Itu artinya ada keterlambatan tujuh tahun bagi Papua Barat mendapatkan dana Otsus.

Semua hal tersebut belum termasuk ambisi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian—yang pernah menjadi Kapolda Papua—untuk membelah lagi dan membikin Papua Selatan serta Papua Pegunungan Tengah. Padahal, jika kita mau sedikit teliti, pemekaran sebelumnya—yang memunculkan Papua Barat—dilakukan hanya dengan menarik garis lurus secara serampangan sehingga berpotensi membelah wilayah masyarakat adat. Kita bisa melihat itu dari peta.

Semua ini rumit. Perlu tulisan lain untuk menjelaskan semuanya secara utuh dan komprehensif. Namun singkatnya, jika dipahami konteks utuhnya, maksud West Papua dan Papua Barat adalah Papua dan Papua Barat itu sendiri. Pemerintah Indonesia terus mengotak-atik nama-nama itu untuk mendistorsi perjuangan kemerdekaan.

1. Jeritan Bangsa, Rakyat Papua Barat Mencari Keadilan (Sendius Wonda, 2009)


Buku pertama yang saya rekomendasikan adalah karya Sendius Wonda yang saya sebut di atas tadi. Secara umum, buku ini menjelaskan bagaimana Bangsa Papua menderita akibat kebijakan otonomi khusus. Mereka hidup ibarat kuda: ditunggangi, badan diikat, mata ditutup, dan disetir dari Jakarta. Sedangkan Pemerintah Indonesia, mendapat bagian menumpangi dokar atau pedati.

Inti dari pemekaran di Papua: perampasan tanah, penghancuran hutan, dan perusakan gunung-gunung rakyat dalam waktu yang singkat. Tentu diiringi dengan penyensoran atas ragam pelanggaran HAM yang terjadi.

Sendius menyantumkan data BPS pada 14 Maret 2009, yang mencatat Papua sebagai tempat penduduk termiskin di Indonesia bermukim. Bagaimana saat ini? Papua dan Papua Barat tetap menjadi wilayah termiskin. Berdasarkan data BPS Maret lalu, tingkat kemiskinan di Papua 26,64 persen dan Papua Barat 21,37 persen. Itu artinya tak ada perubahan signifikan di Papua 11 tahun sejak buku ini diterbitkan.

Jika ditinjau dari program terbaru distribusi penerima Kartu Prakerja, Papua dan Papua Barat berada di tingkat terendah. Hanya 0,08 persen Papua Barat dan 0,46 persen Papua per Agustus lalu.

Selain karena berbeda rumpun, Orang Asli Papua (OAP)—yang rasnya adalah Melanesia—berada dalam cengkraman trauma. Mereka sangat sulit melupakan kekejaman militer Indonesia sejak era percobaan aneksasi Soekarno. Wujud hadirnya Pemerintah Indonesia di Papua adalah dominasi militer. Papua pernah mendapatkan tiga pukulan sekaligus: dwifungsi ABRI, Daerah Operasi Militer (DOM), dan objek vital nasional.

Kendati status DOM dicabut pada 1998, namun kultur kekerasan yang dilakukan militer tak berubah. Masih banyak aparat yang memukuli orang sipil tanpa alasan jelas, dan buruknya lagi, tak tersentuh jerat hukum.

Bahkan Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) diketahui menjadi sumber ekonomi bagi militer Indonesia. Keberadaannya diada-adakan dan dibesar-besarkan. Pembacaan realitas sosial serupa juga pernah Sendius tuturkan juga di buku pertamanya yang juga dilarang beredar. Cap “separatis” menjadi proyek bagi militer untuk mendapatkan uang, naik pangkat, penambahan pasukan maupun logistik, dan menggalakkan operasi militer.

Ruang gerak Bangsa Papua, dalam era yang katanya penuh kebebasan dan demokratis ini, dipersempit dengan stempel “separatis”. Mereka hidup dalam pengawasan ketat dari intelijen negara. Salah satu contoh konkretnya adalah buku ini, yang dianggap menyebarkan virus separatisme dan dilarang beredar.

Oleh karena itu, menanam infrastruktur bukan tolok ukur atau kesuksesan pembangunan di Papua. Sebab, kalangan akar ruput di Papua tetap menjadi penonton. Mereka yang menikmati dana otsus hanya sekelompok elite. Uang otsus yang membanjiri Papua hanya menumbuhkan raja-raja kecil di daerah.

2. Tenggelamnya Rumpun Melanesia: Petarungan Politik NKRI di Papua Barat (Sendius Wonda, 2007)


Rekomendasi dari saya nomor dua lagi-lagi karyanya Sendius. Dalam buku ini, ia meramu petuah adat dan ajaran agama untuk menguatkan sendi-sendi penopang perjuangan kemerdekaan Papua. Dia menguliti sebuah agenda besar: pemusnahan Orang Asli Papua (OAP) melalui operasi militer, transmigrasi, dan keluarga bencana.

Pertama, operasi militer. Kehadiran Pemerintah Indonesia sebenarnya adalah malapetaka. Secara sosiologis, lingkungan OAP berubah menjadi ladang minuman keras dan hanya menunggu kematian tidak terhormat. Tempat hiburan dan panti pijat tumbuh subur—disertai bekingan aparat Indonesia. Salah satu masalahnya yang berkembang saat ini: menjadi biang penyebaran HIV/AIDS yang tak terbendung.

Kedua, agenda transmigrasi. Sistem kapitalisme berwatak menindas dan eksploitatif masif beroperasi di Papua. Perlindungan hak ulayat bidang pertanahan ringkih. Orang-orang Papua melepaskan tanahnya dengan terpaksa karena memang ditekan oleh kekuatan militer.

Ketiga, adanya program keluarga bencana. Sendius memplesetkannya menjadi “Keluarga Bencana”. Program itu mematikan pertumbuhan populasi masyarakat asli Papua, terutama dari rumpun minoritas.

Sendius mengingatkan ulang: tanah Papua memang dijajah, namun jiwa OAP tetap bebas—terkenal dengan frasa “one people, one soul”. Sesuai UUD 1945, penjajahan dan pendudukan NKRI di Papua Barat harus dihapuskan. Sebab kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Selain itu, menurut Sendius, di Papua sila ke-2 hanya berisi: ketidakmanusiaan yang tidak adil dan biadab.

Pemerintah Indonesia menganggap buku ini mengganggu ketertiban umum. Atas rekomendasi dari tim clearing house, Jaksa Agung Hendarman Supandji melarang peredarannya, sejak 27 November 2007.

3. Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (Socratez Sofyan Yoman, 2007).


Pelarangan buku ini, tercatat sebagai satu-satunya instruksi Jaksa Agung Hendarman Supandji sepanjang tahun 2008. Dasar hukumnya adalah UU Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum. Hendarman memerintahkan operasi yustisia untuk menyita buku ini. Setelah dua hari razia ke penerbit dan toko buku, pemerintah menyita 164 buku itu.

Pada 13 Oktober 2010, MK menyatakan undang-undang tersebut tak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Namun Kejaksaan Agung, tetap ngotot masih bisa diberlakukan.

Socratez mengawali buku ini dengan secuil informasi: buku karya Socratez yang akan terbit selanjutnya berjudul Otonomi, Pemekaran, dan Merdeka (OPM). Dia tidak bergurau. Socrates melawan stigma yang disematkan kepada orang Papua seperti “separatis”, “makar”, “OPM”, “primitif”, “kanibal”, “terbelakang”, “bodoh”, dan sebagainya. Dia menyerukan gereja di Papua agar tidak berdiam diri menerima stigma khas penjajah itu.

Ia menceritakan bagaimana gereja mendekati umat sampai ke pelosok: makan, bernyanyi, dan melalui segala suka maupun duka bersama. Namun, Pemerintah Indonesia menusuk dari belakang. Negara menculik, membunuh, dan melakukan berbagai tindakan pelanggaran HAM lainnya dengan alasan umat gereja bagian dari gerakan separatisme. Socratez ingin gereja terus melindungi umatnya, lantang membicarakan nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, dan kebebasan. Sebab—mau bagaimana pun—gereja tidak bertanggung jawab kepada presiden, tetapi kepada Tuhan.

Lewat buku ini, Socratez mendesak berbagai hal yang dijamin harus tumbuh dalam Otsus Papua, khususnya Pasal 46 ayat (2) huruf a, mengenai pelurusan sejarah. Salah satunya dimulai dari bagaimana Papua tak termasuk wilayah yang diproklamasikan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ia juga ingin memasukkan narasi OAP yang terpilih sebagai perancang kemerdekaan, yang sejak 5 April 1961 oleh Nieuw Guinea Raad (NGR) atau Dewan Rakyat Papua, yang oleh Theys Hiyo Eluay dihidupkan kembali dengan nama Presidium Dewan Papua pada 1998.

Narasi lainnya adalah mengenai Kongres Nasional I Papua di Belanda pada 19 Oktober 1961 yang menetapkan “Hai Tanahku Papua” sebagai lagu kebangsaan, Bintang Kejora sebagai bendera nasional, dan West Papua ditetapkan sebagai nama negara. Kemudian, diputuskan 1 Desember 1961 sebagai hari pengibaran bendera bintang kejora.

Namun dalam waktu singkat, West Papua direbut Indonesia dengan senjata dan kekuatan militer besar-besaran. New York Agreement dan Pepera digerakkan dengan manipulatif, intimidatif, diiringi teror, penyiksaan hingga pembunuhan. Kemudian dilakukan pemekaran sebagai langkah sepihak untuk memecah belah Bangsa Papua. Ini menjadi bagian dari pemusnahan, penindasan, eksploitasi rasial, dan sumber daya alam Papua.

4. Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hak Asasi Masyarakat Adat (Sam Karoba, 2007).


Buku keempat ini adalah terjemahan dari naskah asli yang diterbitkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) oleh Sam Karoba, salah satu pendiri Dewan Musyawarah Masyarakat Ada Koteka (DeMMaK). Buku yang saya maksud dalam pengantar di atas ini mengkritik Indonesia yang ikut mendandatangani deklarasi PBB tentang hak-hak masyarakat adat dan pada saat bersamaan menjarah hak masyarakat adat di Papua.

Karoba menjabarkan resolusi PBB—standar untuk pemenuhan, perlindungan, dan pemajuan hak-hak masyarakat adat itu—sesuai dengan konteks kondisi di Papua. Misalnya dalam Pasal 30: ada pengecualian bagi pelatihan dan operasi militer hanya jika terdapat ancaman yang melanda negara. Namun, di Papua, TNI dan Polri kerap menyalahgunakan pengecualian ini untuk melanggengkan rangkaian terorisme negara dan genosida.

Masyarakat adat di Papua hadir sebagai sahabat alam raya, bukan sebaliknya. Namun, mereka perlahan digiring untuk punah, dikikis agama modern, teknologi, daerah operasi militer, program transmigrasi, urbanisasi, KB, lokalisasi, dan sebagainya.

Hal lainnya terkait Pasal 3, yang disebutkan bahwa masyarakat adat memiliki hak kolektif, salah satunya bebas menentukan nasib sendiri. Self-determation itu artinya bernegara atau berpemerintahan sendiri. Namun, masyarakat adat di Papua justru menjadi minoritas usai dekolonialisasi.

Itu hanya sebagian kecil yang dibahas di buku ini. Bukannya didengar atau didiskusikan, buku ini justru dilarang. Bahkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) saat itu, Hafid Abbas, sesumbar meminta PBB untuk menegur penerbit buku ini.

Parahnya lagi, hingga kini—entah sudah berapa dekade—RUU Masyarakat Hukum Adat tak kunjung disahkan di Indonesia.

5. Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah, dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri (Socratez Sofyan Yoman, 2008).


Ironis. Seharusnya buku ini bisa menjadi saluran komunikasi yang bermartabat dan manusiawi. Namun, Jaksa Agung Hendraman Supandji menginstuksikan seluruh kejaksaan agung dan kejaksaan tinggi di Indonesia untuk menyita buku ini dengan operasi yustisia, serta meminta pertanggung jawaban Socratez dan Penerbit Reza Enterprise pada 22 Desember 2009 lalu.

Lewat Suara Gereja, Socratez menarasikan jeritan hati umat Tuhan di Papua yang terpendam dalam bisu dan ketakutan. Buku ini menjadi semacam sarana dialog, sebab selama ini Jakarta memaksakan pembangunan tapi menutup rapat-rapat telinga dari suara orang Papua. Malah seringnya menjawab ajakan dialog dengan mengirimkan pasukan dalam jumlah besar ke Papua.

Ambisi menjajah tanah Papua membuat indonesia membentuk skenario penuh rekayasa, teror, dan intimidasi.

Indonesia merencanakan pemusnahan etnis Melanesia dengan operasi militer dan transmigrasi. Ketidakberpihakan hukum selama ini membuat orang Papua dipandang seperti binatang buruan. Mereka dibunuh dalam operasi militer di daerah-daerah pelosok terpencil yang sebelumnya damai dan tentram.

Mereka yang berseberangan dengan negara akan dilabeli sebagai Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), Gerakan Pengacau Liar (GPL), Gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), separatis, hingga makar—berbagai stigma yang bahkan tak pernah diwariskan oleh nenek moyang orang Papua sendiri.

6. Pembunuhan Theys: Kematian HAM di Tanah Papua (Benny Giay, 2005).


Buku ini awalnya diluncurkan pada 25 Oktober 2003 di Gedung Pertemuan Sekolah Tinggi Teologia (STT) GKI I.S. Kijne—nama pembuat lagu kebangsaan Papua, “Hai Tanahku Papua”—di Abepura, Jayapura. Setelahnya, buku ini langsung dilarang dan ditarik dari peredaran. Pelarangan dilakukan Muspida Papua, Kejaksaan Papua, dan Panglima Kodam.

Sweeping besar-besaran di jalanan terhadap buku ini terjadi selama dua hari berturut-turut. Tas pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor diperiksa. Papan nama STT Walter Post Jayapura digergaji dan dirobohkan. Rumah Benny Giay berulang kali didatangi anggota Polri dan TNI tak berseragam.

Namun, pada April 2004, Benny Giay justru menyempurnakan isi Pembunuhan Theys. Kemudian Mei 2006, Galang Press menerbitkannya cetakan kedua.

Giay menertawakan dangkalnya kekuasaan otoriter. Penguasa Indonesia, walaupun berpendidikan dan berpangkat tinggi, tetap memilih menggunakan otot, senjata, penculikan, hingga pembunuhan—cara-cara tak bermartabat dalam menyelesaikan perbedaan ideologi dan pilihan politik.

Giay mengisahkan sosok Theys Hiyo Eluay, karyawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kader Partai Golkar yang pernah menjadi anggota DPRD, dan bahkan pernah tergabung dalam Merah Putih—ormas yang dibentuk dan dikendalikan TNI dan Polri. Dia menjadi cepu keberadaan gerilyawan pro-kemerdekaan Papua. Inilah yang membuatnya dekat dengan Komandan Satgas Tribuana VIII/Kopassus, Hartomo.

Tahapan kehidupan berikutnya menempa diri Theys. Pada puncaknya, ia menjadi “jembatan emas” rakyat Papua untuk menyeberang ke Papua yang merdeka, melalui jalur damai. Inilah yang membuat Gus Dur mengusulkan agar Theys mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan nasional.

Theys mendirikan dan menjadi pimpinan Presidium Dewan Papua (PDP), organisasi masyarakat kesukuan di Papua mengadopsi prinsip Nieuw Guinea Raad (NGR). PDP menggelar Kongres Papua II di Jayapura pada tahun 2000. Gus Dur mendukung adanya forum besar yang memutuskan nasib Papua ini. Dengan menyetujui usulan Kongres Papua II itu, Gus Dur memperbolehkan pengibaran Bintang Kejora dan mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua.

Satu hal yang tak disetujui Gus Dur: Papua merdeka dari Indonesia. Namun, Theys dan PDP tak pernah berhenti memperjuangan kemerdekaan Papua melalui jalur damai.

Hartomo menculik, menyiksa, dan membunuh Theys melalui enam prajuritnya. Ketika berkunjung ke Papua, saya bingung mengapa makam mendiang Theys ada dua. Ternyata salah satunya merupakan tempat jenazah Theys ditemukan, tepatnya di Kilometer 9, Koya, Muara Tami, Jayapura. Sedangkan satunya lagi di jalan keluar-masuk Bandara Sentani merupakan makam Theys.

Atas tindakan itu, Hartomo divonis hukuman 3,6 tahun kurungan penjara oleh Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) III Surabaya, pada 2003. Namun ternyata ia tak dipecat dari TNI. Pada 16 September 2016, Hartomo malah diangkat menjadi Kepala BAIS. Pada 30 Oktober 2019, Hartomo diangkat lagi sebagai dosen tetap di Universitas Pertahanan, dari jabatan sebelumnya sebagai staf khusus KSAD. Hartomo kebal hukum. Bahkan hingga kini, sopir pribadi Theys, Aristoteles Masoka, belum ditemukan keberadaannya.

Buku ini merekam berbagai protes dan demonstrasi mengecam kekerasan Indonesia—salah satunya pembunuhan Theys—terhadap bangsa Papua. Kecaman datang dari mahasiswa, tokoh politik dan adat, pejabat pemerintahan, hingga organisasi internasional. Bahkan, para pimpinan gereja melakukan penolakan terhadap Komisi Penyelidik Nasional (KPN) yang dibentuk Megawati Soekarnoputri. Sebab, KPN melibatkan TNI, instansi yang mengerahkan anggotanya untuk membunuh Theys. Dampaknya, para pendeta itu diteror orang tak dikenal dan anggota TNI.

Sindiran Theys paling dahsyat yang dikutip buku ini: “Saya takut orang Indonesia menjajah kami orang Papua di surga”. Theys berjanji, jika dia nanti melihat satu saja orang Indonesia, dia akan lari meninggalkan surga.

7. Buku Atlas Lengkap Indonesia & Dunia (2003).

Sejujurnya, ini satu-satunya buku yang tak saya punya. Saya tak tahu isinya, kecuali dari alasan pelarangan: memuat bendera Bintang Kejora dengan label West Irian. Dalam peta buku ini, Papua dibelah menjadi tiga provinsi: Papua Barat, Timur, dan Tengah.

Buku ini diterbitkan Penerbit GBS, Mitra Pelajar Surabaya, dan Amelia Surabaya, pada 2003. Kejaksaan Agung, berdasarkan rekomendasi hasil rapat Tim Clearing House pada 21 Februari 2006, memerintahkan seluruh kantor kejaksaan di Indonesia melarang dan menarik buku ini dari peredaran.***

Dieqy Hasbi Widhana, jurnalis Tirto.id

Pada awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda melalui tangan Balai Poestaka berusaha membendung arus penerbitan buku dan artikel karya para aktivis anti-kapitalis dan anti-kolonialis. Barisan literatur yang berperan besar menyuburkan gerakan politik kelas di Indonesia ini dicap Belanda sebagai “batjaan liar”. Kami mengklaim kembali istilah tersebut untuk sebuah rubrik berisi rekomendasi bacaan yang disusun secara tematik untuk merespons berbagai macam isu. Haris Prabowo adalah editor tamu Batjaan Liar. Sehari-hari ia bekerja sebagai jurnalis Tirto.id.

Sunday, November 22, 2020

Berpihak Kepada Kebenaran atau Menentang NKRI? (1)

Pengantar

Ada dua konsep pemikiran atau perspektif yang perlu dibedakan bagi orang Papua dan orang Indonesia dalam kaitannya dengan hubungan West Papua - Indonesia, hubungan NRWP (Negara Republik West Papua) - NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia), yaitu perbedaan antara berpihak kepada kebenaran dan menentang NKRI.

Saya, Sem Karoba, sebenarnya saya tidak menentang NKRI dan saya juga tidak pernah membenci siapapun, memusuhi siapapun, apalagi merencanakan kejahatan terhadap siapapun. Saya tidak punya kapasitas dan tidak punya sanggup untuk membenci dan memusuhi siapa-siapa. Alasan pertama dan utama karena saya orang Kristen, secara khusus karena saya hamba Tuhan, saya meneladani Kristus, yang telah mengasihi saya dan rela berkorban sampai mati disalib demi penebusan dosa dan salahku.

NKRI dan Indonesia Tidak Layak Beridiri sebagai Negara Modern yang Beradab

Saya tidak pernah memusuhi orang Indonesia karena saya tahu bahwa apa yang dilakukan orang Indonesia atas nama Negara mereka bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Iblis) didukung sepenuhnya oleh iblis sejak pendiriannya, dan harus dipelihara dan dipertahankan oleh iblis dan karena itu pasti akan berakhir. Saya yakin bahwa NKRI pasti berakhir, karena fondasi pendiriannya ialah iblis, karena NKRI dipertahankan dengan cara-cara dan berdasarkan metode iblis, dengan ciri utama dan pertama penuh dusta, penuh tipudaya.

Walaupun ada doa-doa dinaikkan oleh orang Kristen, orang Islam, orang Hindu, orang Budha, kita semua harus akui bahwa kebenaran universal tidak dibatasi oleh agama apapun, karena ia bersifat mutlak bagi kita semua. Dan kebenaran mutlak itu mengatakan bahwa siapapun kita tahu bahwa fondasi pendirian dan cara mempertahankan NKRI penuh dengan pertumbahan darah, penuh dengan tipu-daya dan penuh dengan curiga-mencurigai.

Ciri kedua kerajaan iblis ialah masyarakat yang penuh dengan curiga-mencurigai, sampai-sampai malaikat yang berkarya di Indonesia-pun patut dicurigai. Ini pertanda telah terjadi krisis kepercayaan sampai ke tingkatan yang paling parah dalam sejarah manusia.

Ciri ketiga dari kerajaan NKRI sebagai kerajaan iblis ialah tidak ada kasih dalam hati, pikiran, kata-kata dan perilaku orang Indonesia. Memang katanya dalam pelajaran Pancasila dan agama ialah bahwa orang Indonesia itu ramah dan sopan, lemah-lembut dan bermoral. 

Tahu-tahu apa yang terjadi?

  1. Banyak kasus korupsi diungkap di Indonesia, bahkan di departemen agama, di mesjid dan gereja terjadi korupsi.
  2. Banyak kata-kata tidak sopan, merendahkan martabat manusia seperi "bodoh", "tolol", "goblok", ditambah lagi nama-nama Ragunan Zoo juga keluar dari mulit manusia yang katanya beradab itu. 
  3. Berulang-kali orang Papua disebut "Wong ireng", dan "Kera", "Babi", "Anjing" dan "binatang". Carilah di google.com dan akan anda temukan dengan mudah ucapan rasis orang Indonesia kepada orang Papua.

NKRI identik dengan kerajaan iblis. NKRI dengan mudah dapat dicap sebagai negara iblis. Selain tiga alasan di atas, Anda dapat dengan mudah mendaftarkan alasan-alasan lainnya. Misalnya

  1. Pemimpin Indonesia gemar berziarah ke kuburan sebelum dan setelah Pilkada, pertanda penyembahan berhala marak;
  2. Agama-agama yang ada di Indonesia banyak beternak jin, banyak menggunakan jin, banyak menyembah tuyul, banyak menikah dengan Nyi Roro Kidul, dan sebagainya.
  3. Kasus-kasus di Indonesia banyak ditangani dengan perdukunan: misalnya untuk menangkap teroris, untuk menangkap pencuri, untuk meramal.
Enam daftar perilaku orang Indonesia ini jelas-jelas menjukkan orang Indonesia hidup dalam perdukunan masal dan terbuka, penyembahan berhala secara umum dan terbuka, tanpa pernah ditegur oleh gereja manapun. Banyak pendeta-pendeta Kristen, yang ternama-pun ada di Indonesia, tetapi mereka memilih diam, dan malahan mendokana NKRI agar tetap utuh, agar kerajaan iblis ini tetap menjadi kutuk bagi bangsa Indonesia.

Komentar Penutup

Karena saya sadari bahwa NKRI tidak layak berdiri sebagai negara modern yang beradab, maka saya harus bertindak membela kebenaran.
  1. Adalah kebenaran mutlak bahwa Tanah Papua adalah tanah milik bangsa Papua, bukan diciptakan untuk orang Indoensia;
  2. Adalah kebenaran mutlak bahwa orang Papua adalah ciptaan Allah seupa dan segambar dengan Dia sendiri, dan karena itu BUKAN Monyet dan Bukan Binatang seperti panggilan orang Indonesia (NKRI Kristen, NKRI Islam, NKRI Hindu, NKRI Budha, NKRI Jawa, NKRI Manado, NKRI Batak, NKRI Bali, NKRI Makassar);
  3. Adalah kebenaran mutlak bahwa pembunuhan atas orang Papua dengan alasan separatisme, melawan hukum NKRI adalah menentang Hukum Allah yang melarang kita "Jangan membunuh!";
  4. Adalah kebenaran mutlak bahwa saya sebagai orang Kristen, saya sebagai manusia sehat rohani dan jasmani, akal dan otak, saya harus berpihak kepada kebenaran, tidak kepada perasaan, tidak kepada emosi, tidak kepada nasionalisme duniawi yang membunuh dan membinasakan orang lain, tidak kepada dusta;
Jadi, kalau apa yang saya katakan dianggap sebagai sebuah perkataan yang melawan NKRI, maka Anda salah! Karena saya tidak melawan siapapun, dan saya tidak beruntung dengan melawan siapapun atau apapun. 

Tugas saya sebagai orang beragama Kristen, orang lahir baru, dan kewajiban saya sebagai manusia beradab ialah membela kebanenaran, tanpa perduli apapun resikonya, siapapun yang berpihak kepada kebenaran itu tidak penting, yang terpenting ialah saya telah tahu dan karena itu saya membela kebenaran itu.

Kebenaran yang saya maksud di sini bukanlah kebenaran saya atau kebenaran Anda, bukan juga kebenaran kami dan kebenaran mereka. Juga bukan kebenaran mereka dan kebenaran siapa-siapa. 

Yang saya bela ialah kebenaran mutlak. Kebenaran universal. Kebenaran yang tidak berpihak dan tidak melekat kepada siapapun. Kebenaran yang bersumber dari dan berumpu kepada Allah Bapa, di dalam Putra-Nya Yesus Kristus, yang dinyatakan melalui Roh Kudus.

Dua Perspektif Kemerdekaan: Merdeka dari .... (free from...) dan Merdeka untuk...(free to..)

Pengantar

Mirip dengan perbedaan kata perjuangan yang kita petakan sebelumnya, yaitu berjuang menentang dan berjuang untuk, maka kata "merdeka" juga mengandung dua perspektif: yang pertama dari perspektif merdeka dari..., dan yang kedua dari perspektif merdeka untuk.

"Kemerdekaan" (atau freedom) adalah keadaan di mana (1) seseorang tidak terikat, tidak dibatasi, tidak terhalangi dan (2) seseorang bebas untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Maka sering saya menggunakan istilah "free to..." dan "free from..."

Dua Perspektif Merdeka secara Konseptual

Dalam konteks perjuangan bangsa Papua, maka kedua perspektif atau konsep ini dinyatakan dalam dua kalimat berikut

  1. Papua Merdeka ialah bebas dari cengkeraman NKRI, bebas dari pendudukan NKRI, bebas dari penjajahan Indonesia;
  2. Papua Merdeka ialah bebas untuk mengurus diri sendiri, bebas untuk menyatakan pendapat, bebas untuk berorganisasi dan berkumpul, bebas untuk menyatakan pendapat memisahkan diri dari NKRI.
Setelah bebas dari pendudukan dan penjajahan NKRI, maka bangsa Papua mau bebas untuk mengatur diri sendiri, mengatur rumah-tangga sendiri, mengatur bangsa sendiri di dalam negara baru bernama Republik West Papua. Itu konsep dari "merdeka untuk..."

Untuk mencapai kemerdekaan itu, maka bangsa Papua harus merdeka dari berbagai hal terkait dengan NKRI, yaitu antara lain
  1. merdeka dari cara berpikir orang Indonesia;
  2. merdeka dari perilaku orang Melayu-Indonesia;
  3. merdeka dari selera makan-minum ornag Melayu-Indonesia;
  4. merdeka dari hukum dan peundangan NKRI;
  5. merdeka dari negara Indonesia
  6. merdeka dari pemerintah Indonesia;
  7. merdeka dari matauang Rupiah
  8. merdeka dari bahasa Indonesia
Untuk mewujudkan kemerdekaan dari... di atas, maka kita harus
  1. merdeka untuk berpikir sebagai orang Melanesia;
  2. merdeka untuk berperilaku sebagai orang Melanesia;
  3. merdeka berselera makan-minum Melanesia;
  4. merdeka dalam hukum dan perundangan West Papua;
  5. merdeka dengan bernegara sendiri; Republik West Papua;
  6. merdeka berpemerintahan sendiri, pemerintah Republik West Papua
  7. merdeka memiliki matauang sendiri atau menggunakan matauang Kina
  8. merdeka menggunakan Tok Pisin atau Bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa penjajah: Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu-Indonesia

Catatan Penutup

Dalam penggunaannya biasa dipakai kata "liberation" untuk pembebasan atau free from..., dan "freedom" untuk kebebasan atau free to... Kedua-duanya berbicara tentang "liberty", yaitu kebebasan.untuk melakukan apa yang dikehendaki seseorang, kondisi bebas dari tekanan, ancaman, dari regime yang opresif.

Ada pertanyaan pembeda untuk kata "Papua Merdeka":
  • Apakah orang Papua mau merdeka dari Indonesia ataukah orang mau merdeka untuk bernegara-bangsa sendiri?
Sama dengan pertanyaan sebelumnya, "Apakah orang Papua berjuang menentang NKRI ataukah ornag Papua berjuang merebut kemerdekaan?", maka kita sebagai orang Papua maupun kita sebagai pejuang Papua Merdeka haruslah jelas, apa yang kita maksudkan dengan ungkapan "Papua Merdeka", karena kalau tidak jelas kita akan berputar-putar dalam lingkaran setan tanpa menemukan jalan keluar, tanpa mengetahui langkah teknis apa yang harus diambil, karena kita dikaburkan oleh konsep "Papua Merdeka" yang tidak jelas.

Kalau bangsa Papua bicara merdeka untuk bebas mengatur diri sendiri di dalam NRWP (Negara Republik West Papua), maka pastilah akan nampak bagi semua pihak, langkah-langkah dengan tahapan yang jelas dan nyata, sehingga perjuangan ini tidak mengambang, tidak multi-tafsir, dan tanpa target waktu, dana dan daya yang jelas.

Bila bangsa Papua bicara merdeka dari NKRI, maka kita akan harus tergantung kepada apa saja yang dipikirkan, apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan NKRI. 

Saya berharap kita tidak terjebak dalam ambiguitas yang berkepanjangan tentang apa arti Papua Merdeka buat saya, buat Anda, buat ULMWP dan buat bangsa Papua secara keseluruhan, sehingga membantu bangsa-bangsa lain di muka Bumi mengambil sikap mendukung atau tidak mendukung perjuangan ini.


Monday, November 9, 2020

Dua Perspektif Perlawanan: Menentang dan Merebut

 Ada dua persektif yang secara fundamental berbeda, walaupun menggunakan kata yang sama, dari kata "lawan" atau "melawan" atau "perlawanan".

Melawan = Menentang

Yang pertama adalah perlawanan yang artinya melawan atau menentang atau bertolak-belakang dengan apa yang ada saat ini. 

Dibandingkan dalam pertandingan sepak bola, maka perlawanan yang menentang ialah permainan bertahan (defensive), di mana kesebelasan yang diturunkan bermain untuk mempertahan apa yang mereka miliki.

Dalam permainan defensive kebanyakan energi dan perhatian diberikan kepada pemain lawan, terutama kelebihan, kekurangan dan cara-cara untuk mengatasi serangan lawan yang dimotori oleh sang striker. Orang kedua yang diperhatikan ialah penyerang sayap kiri dan sayap kanan. Tiga orang ini akan menjadi pembahasan dan fokus utama.

Melawan = Merebut

Berbeda dengan itu, kalau kesebelasan yang bersangkutan menerapkan sistem menyerang, atau offensive, maka fokus utama permainan ialah bagaimana mengoptimalkan kemampuan dari stikernya dan pemain sayap kiri dan kanan dari kesebelasannya. Fokus utama ialah bagaimana mencetak goal di gawang lawan.

Permainan offensive ini dalam konsep kedua dari kata melawan kita sebut "berjuang untuk merebut" atau mendapatkan sesuatu. Dengan fokus merebut kemenangan, maka semua kekuatan dikerahkan untuk "merebut" kemenangan.

Perjuangan Papua Merdeka?

Perjuangan Papua Merdeka menjalani kedua-duanya, tetapi mari kita lihat perbedaan keduanya dalam perilaku perjuangan Papua Merdeka. Perbedaan yang dipetakan dis ini bukan antara yang pro dan yang kontra Papua Merdeka, tetapi konsep pemikiran, konsep wacana dan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam kampanye Papua Merdeka yang mencerminkan apakah perjuangan Papua Merdeka ini lebih dalam rangka menentang NKRI ataukah lebih bertujuan merebut kemerdekaan Negara Republik West Papua (NRWP).

Yang dilakukan orang Papua yang Berjuang Melawan Indonesia

Pejuang Papua Merdeka yang berjuang menentang NKRI akan melakukan hal-hal berikut:

  1. Selalu membaca status dan berita-berita dari Jakarta, dan yang dilakukan pemerintah Indonesia;
  2. Selalu memikirkan, memberikan pendapat atau mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terjadi di Jakarta atau di Indonesia, atau apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang Indonesia, baik masyarakat umum tetapi terutama pejabat NKRI.
  3. Menghabiskan banyak waktu berdiskusi tentang apa saja yang dikatakan orang Indonesia dan NKRI.

Yang dilakukan orang Papua yang Berjuang Merebut Kemerdekaan

Pejuang Papua Merdeka yang berjuang untuk merebut kemerdekaan, atau untuk memerdekakan wilayah West Papua dari penjajahan akan melakukan hal-hal berikut:
  1. Lebih banyak memikirkan dan menceritakan bagaimana kehidupan setelah Papua Merdeka dan berdaulat penuh di luar NKRI.
  2. Lebih fokus berpikir tentang sasaran, langkah-langkah, strategi untuk Papua Merdeka dan berdaulat di luar NKRI.
  3. Memiliki konsep dan abstraksi yang jelas tentang ciri-ciri West Papua yang merdeka dan berdiri sendiri.
  4. Tidak akan pusing dengan apapun yang dipikirkan, dikatakan atau dilakukan oleh NKRI atau orang Indonesia.

Yang dilakukan orang Papua yang tidak percaya diri

Di antara kedua jenis orang berdasarkan konsep perlawanan "melawan" dan "memperjuangkan" ini, ada juga orang Papua yang tidak melawan dan juga tidak memperjuangkan apa-apa.

Kalau begitu apa kerjanya?
  1. Dia bicara tentang Papua Merdeka, tetapi orientasi berpikirnya selalu ke belakang, selalu bicara tentang penjajahan Belanda, selalu bercerita tentang Jacob Prai dan Seth Roemkorem, selalu berpatokan kepada apa yang telah terjadi, telah berlalu.|

  2. Dia selalu mengupdate status tentang apa saja yang terjadi di Amerika Serikat, Austarlia dan Inggris, tiga negara yang mewarnai politik global hari ini. Dengan mengupdate states tentang apa yang sedang terjadi dan perkembangan di sana, mereka mengkait-kaitkannya dengan Papua Merdeka. Mereka mengemukakan harapan-harapan dan doa-doa manis. Mereka percaya bahwa Papua Merdeka bukan direbut, bukan juga didapatkan dngan melawan NKRI, akan tetapi akan diberikan cuma-cuma oleh negara-negara barat.

    2.1
    Logika pertama, karena negara barat yang bikin salah jadi mereka harus memperbaiki kesalahan dan mereka akan memperbaiki kesalahan, maka itu kita harus berdoa dan berharap.
    2.2 Mereka itu negara-negara Kristen, jadi pasti akan membantu West Papua.
    2.3 Mereka yang dulu lepaskan bangsa Papua dari perang suku, isolasi dan kekafiran, jadi kemerdekaan politik juga pasti berasal dari mereka. Kuncinya mereka ada pegang, bukan ada di Indonesia, apalagi di tangah orang Papua tidak ada.

  3. Mereka tidak pernah mengikuti pertemuan, tidak pernah memberikan sumbangan keuangan, sumbangan tenaga sumbangan pikiran kepada perjuangan Papua Merdeka, tetapi mereka selalu muncul tiba-tiba, entah dari mana tidak tahu, lalu bicara Papua Merdeka. Penyebabnya ialah mereka secara tersirat menganut pemikiran bahwa kemerdekaan akan turun sesuai waktunya, entah menurut rencana Allah atau menurut nasib-basiban.

Komentar Penutup 

Kita tidak berbicara tentang benar-salah, boleh-jangan, tetapi kita berbicara tentang pilihan yang dapat kita ambil untuk Papua Merdeka. 

Pilihan pertama ialah berjuang terus melawan NKRI, karena nanti NKRI yang memberikan kemerdekaan kepada bangsa Papua.

Pilihan kedua, jangan berharap kepada siapapun, percayalah kepada diri sendiri, perjuangkan apa yang mau anda perjuangkan, dan bertekun sampai mencapai cita-citamu.

Pilihan ketiga, jangan datangkan banyak masalah buat hidupmu, tinggal saja dan berdoa. Kemerdekaan akan datang kalau Tuhan kehendaki. Setiap masalah pasti ada solusi. Tuhan akan mengirim malaikatnya, mengirim negara Kristen barat untuk membebaskan bangsa Papua dari penjajahan.

Siapakah Anda?

Kalau saya memilih berpihak kepada kelompok orang Papua yang kedua, yaitu berjuang untuk merebut kemerdekaan. Itulah sebabnya sudah 20 tahun genap saya habiskan masa hidup saya menulis buku, berteori dan memperjuangkan Papua Merdeka.

Saya tidak pernah berharap kepada orang Indonesia ataupun orang Barat. Sedikitpun tidak!

Pengharapan saya yang pertama dan terutama ada dalam Yesus Kristus, Tuhan, Pencipta, Juruselamat, Gembala, Hakim Agung, Panglima Mahatinggi Komando Revolusi Semesta Alam Sepanjang Masa, dan kedua percaya kepada anak pilihan-Nya untuk tugas pembebasan bangsa Papua, yaitu diri saya sendiri, dan kepada semua pejuang Papua Merdeka di manapun Anda berada. 

Oleh karena itu perjuangan ini telah saya jalani dengan totalitas: meninggalkan jabatan yang menggiurkan di Universitas Cenderawasih, NIP PNS yang menjamin keluarga saya dan ketenangan hidup.

Tentu saja dan saya tahu itu, saya tidak berhak memaksa Anda berpihak ke mana. Tugas saya hanya menerangi jalan, dan memberitahukan jalan yang telah saya pilih. Hanya itu...

Tuesday, October 20, 2020

“Wantok System” Defines whether or not I am Really a Melanesian Person

Many Melanesian leaders and thinkers have been brainwashed to think that “Wantok System” is nepotism, and therefore Wantok System should be wiped out from Melanesian peoples in all aspects of life.

I argue that it is “Wantok System that defines Melanesian peoples as Melanesians”. I normally say,

If you hate Wantok System, then you should definitely call yourself non-Melanesian, a foreigner in Melanesian body and Melanesian soil. That means that you hate your father, you refuse your mother, your deny your grand-father, you undermine your grand-mother. That is a curse to yourself. No humans ever done that. All humans do recognize their ancestral norms, values and systems and they fight for it to be recognized, protected and promoted.

Our Melanesian ancestors, from Raja Ampat Islands to Wallis-Futuna Islands have left us this invaluable asset for us to nurture, protect and promote, for our own sake and for the sake of our future generations.

When speaking to classes in western countries, Karoba always argue that Wantok System is a complex system of life and living, which Melanesian define themselves as a human race and human entity on this planet Earth.

Wantok System has many positive values. We can mention three of them here:

  1. Wantok System is the only social-building for Melanesians that identify and define us as social-being. Imagine Melanesians outside or without this system? We will be individualistic individuals who live lonely in a crowded society such as those in western culture.

    We need our family relations, our kinships, our tribal connections in place in order to keep us live as social beings. Wantok System is the only tool that keep us from going too wild in our individualistic individualism that modernization brings to humanity all over the world.
  2. Wanok System is the only tool that we Melanesians use to keep our moral standards. Religious values add to this original values inherent to our Melanesia-hood.
  3. Wantok System is the only tool economic activities appropriate for scattered and isolated  as well as socially tribal Melanesians . We Melanesians invest in human beings, we practice social-business very well. We are social capitalist. And we need to develop our Wantok System of Economy in order to teach the world that economy is about food, and it is about food for human beings, and first of all food for ourselves, our families, our close relatives and then our extended families and finally for everyone in this world. It does not support food for greed, nor for individualist ambitions.

    We should teach the world a comprehensive Melanesian philosophical statement made by our former prominent Melanesian philosopher, Bernard Narakobi’s secret of life: “live well, love well, have something good for every person and die a happy death

Only Wantok System will help us live well. Only Wantok System that help us love well. Only Wantok System that can have something good for every person. Only within Wantok System we do experience a happy death.


Tuesday, July 21, 2020

Merdekakan Diri Dulu untuk Memerdekakan Bangsa dan Tanah Papua

ANTARA petisi dulu 2017 dan petisi sekarang 2020, kenapa dipermasalahkan?Antara  OPM dan ULMWP antara WPA dan TPN OPM PB mengapa dipermasalahkan????  Otak yang penuh masalah yang sedang  mempermasalahkan  kedua duanya. Padahal  dua duanya di inisiasi dan diorganisir dan dilakukan oleh OAP,  dua duanya untuk tujuan demi. OAP. 

Buang. Curiga?!
Buang prasangka buruk
Buang ego...
BUANG gosip dan pembusukan nama sesama OAP
Buang remehkan sesama OAP 
Buang...... Buang...  buang.... 

Sadar.....!!!! 
Aku Papua tetapi Papua bukanlah Aku 
Aku anggap diri benar, tetapi kebenaran bukan milik ku
Aku mencurigai teman sebangsa ku tetapi aku tidak mau sadar bahwa mental curiga dan perbuatan menggosip ialah tanda aku budak yang layak dijajah 

Ya! 
Aku harus merdeka dari. Semua ini! 
Ya,  
Itu baru saya pantas bicara Papua Merdeka 

Karena 
Hanya oang yang merdeka dengan dirinya sendiri yang layak dan berhak bicara Papua Merdeka 

Bagi kita yang bermental budak sebaiknya merdekakan diri dulu karena kita harus malu bahwa budak tak layak mengurus kemerdekaan kelompok karena dirinya sendiri masih berstatus BUDAK



Biarkan Allah berkarya 

Sunday, July 19, 2020

Nelson Mandela: time and energy in helping others

“There can be no greater gift than that of giving one’s time and energy to help others without expecting anything in return.” - Nelson Mandela.
#MandelaDay2020 #67minutes