Showing posts with label Free West Papua. Show all posts
Showing posts with label Free West Papua. Show all posts

Saturday, August 7, 2021

indonesia AKAN keluar Sendiri, Berdoa dan Berdoa: Pdt Emeritus Ki'marek Karoba Tawy

Pada Tahun 2016, saya mendapat pesan khusus dari Alm. Pdt.. Emeritus Ki'marek Karoba Tawy bahwa perjuangan bangsa Papua telah memasuki era baru karena jawaban yang Tuhan sampaikan kepada almarhum sebagai hamba setia-Nya berbeda. 

Katanya 
"Berdoa, bekerja dan berjuang terus! Indonesia pasti keluar, nanti kaget-kaget mereka akan keluar tanpa kita sadar! Saya tidak tahu maksud Allah apa dengan penglihatan ini"

Kita flashback dulu. 

Saya masih ingat pasa Tahun 1976, ayah saya sebagai Wakil Ketua Klasis Mbogo, berkantor di Kelela sering didatangi paman nya Pdt Mandin Maah Yikwa yang waktu itu ialah Ketua Klasis Mbogo.

Percakapan keduanya selalu seputar apakah perang Papua Merdeka harus terjadi. Sang Paman, Alm. Pdt Mandin Maah Yikwa selalu mengatakan kepada keponakannya, Alm. Pdt Emeritus Ki'marek Karoba Tawy:
Perang harus dimulai. Kita harus mengusir semua pendatng: misionaris kita usir, orang Indonesia kita usir, orang hitam yang dari luar juga kita usir. Dan kita harus usir sekarang.

Saya juga mendengar balasan dari Alm. Pdt Emeritus Ki'marek Karoba Tawy seperti berikut:
Ya, om, saya sendiri sudah berdoa berulang-ulang dan Tuhan memberikan penglihatan yang tidak sama dengan kemauan om. Saya diberitahukan Tuhan bahwa banyak dari kita akan mati di hutan-hutan dan perjuangan ini tidak akan berhasil, karena Tuhan tidak setuju.

Pamannya-pun bertanya "Apakah anak tidak setuju Papua Merdeka?" Anaknya menjawab,
Om, saya tidak katakan menolak Papua Merdeka. Yang saya katakan adalah Tuhan tidak setuju, dan Tuhan berulang-ulang tunjukkan kepada saya bahwa kami akan mati banyak. Mungkin anak kecil ini, yang sedang tidur ini (pada waktu itu saya selalu pura-pura tidur di honai laki-laki ayah saya, dalam rangka mendengarkan cerita mereka berdua. Alasan saya menguping karena saya senang mendengarkan mereka berdua berdiskusi tentang Alkitab dan cerita lain)
Alm. Pdt Emeritus Ki'marek Karoba Tawy berlanjut:
Tuhan bilang saya bahwa saya akan lari ke hutan, saya akan bawa anak-anakku, yaitu cucu-cucumu ini ke hutan. Om sendiri juga akan lari ke hutan, dan mungkin akan mati di hutan.

Kita kembali ke Doa Alm. Pdt Emeritus Ki'marek Karoba Tawy Saat ini

Pada tahun 2000, bulan Juni, saya, Sem Karoba menyampaikan Pidato Politik selama 1 menit. Judul pidato saya ialah, "Benar lawan tipu!"

Setelah saya berpidato, ayah saya tidak mengatakan apa-apa. Walaupun saya bertemu dengannya selama beberapa menit setelah saya berpidato, saya tidak mengatakan apa-apa.

Saya-pun lanjut dengan tugas-tugas saya untuk membebaskan bangsa saya, terutama tindak-lanjuti pembentukan Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka (DeMMAK).

10 tahun lebih kemudian, yaitu pada tahun 2016, saya bertemu kembali dengan ayah saya, dan bercakap-cakap tentang perjuangan bangsa Papua. Beliau saya temukan, setelah 10 tahun berpisah, berdoa setiap saat, bukan setiap hari, tetapi setiap saat, sambil membaca Alkitab, sambil berdoa, selalu menyertakan dukungan kepada perjungan Papua Merdeka.

Saya-pun menyempatkan diri bertanya-jawab. Saya menanyakan, "Yikwanak, apa yang Allah katakan tentang perjuangan ini?"

Sudah dua kali saya bertanya tidak ada tanggapan serius. Beliau hanya katakan, "Semuanya didukung Tuhan1'

Akan tetapi pada saat saya tanyakan yang ketiga kali, beliau menjawab,
Saya dulu tahun 1975-1976 mendapatkan penglihatan yang berbeda tentang perjuangan ini dari Tuhan. Sekarang ini saya diberitahu Tuhan hal yang berbeda dengan yang dulu. Dulu Tuhan tunjukkan kita semua lari ke hutan, dan banyak sekali yang mati di hutan. Saat ini tidak begitu lagi. Saya diberitahu Tuhan berulang-ulang lagi, bahwa Indonesia sendiri ada keluar diam-diam. Kita kaget sadar bahwa Indonesia sudah keluar, begitu!

Apa artinya buat kita sebagai Oang Asli Papua (OAP) dan sebagai pejuang hak asasi bangsa Papua?

Arti yang pertama ialah bahwa kita harus banyak berdoa dan berpuasa, menggugat Tuhan, menyatakan kehendak kepada Tuhan, melaporkan semua yang terjadi kepada Tuhan.

Arti yang kedua ialah bahwa Tuhan telah mendengarkan doa dan keluhan bangsa Papua, dan NKRI pasti akan keluar. Akan tetapi bangsa Papua sendiri harus melakukan hal-hal yang patut dilakukan seperti
  1. Mempersiapkan Undang-Undang Dasar Negara Republik West Papua;
  2. Membentuk Pemerintah dan menjalankan pemerintahan sementara sebagaimana sebuah pemerintahan negara;
  3. Berdoa, bedoa dan berpuasa, berpuasa! Menyampaikan semua permohonan kepada Tuhan, karena Tuhan telah menjawab doa-doa dan keluhan bangsa Papua.


Sunday, November 22, 2020

Berpihak Kepada Kebenaran atau Menentang NKRI? (1)

Pengantar

Ada dua konsep pemikiran atau perspektif yang perlu dibedakan bagi orang Papua dan orang Indonesia dalam kaitannya dengan hubungan West Papua - Indonesia, hubungan NRWP (Negara Republik West Papua) - NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia), yaitu perbedaan antara berpihak kepada kebenaran dan menentang NKRI.

Saya, Sem Karoba, sebenarnya saya tidak menentang NKRI dan saya juga tidak pernah membenci siapapun, memusuhi siapapun, apalagi merencanakan kejahatan terhadap siapapun. Saya tidak punya kapasitas dan tidak punya sanggup untuk membenci dan memusuhi siapa-siapa. Alasan pertama dan utama karena saya orang Kristen, secara khusus karena saya hamba Tuhan, saya meneladani Kristus, yang telah mengasihi saya dan rela berkorban sampai mati disalib demi penebusan dosa dan salahku.

NKRI dan Indonesia Tidak Layak Beridiri sebagai Negara Modern yang Beradab

Saya tidak pernah memusuhi orang Indonesia karena saya tahu bahwa apa yang dilakukan orang Indonesia atas nama Negara mereka bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Iblis) didukung sepenuhnya oleh iblis sejak pendiriannya, dan harus dipelihara dan dipertahankan oleh iblis dan karena itu pasti akan berakhir. Saya yakin bahwa NKRI pasti berakhir, karena fondasi pendiriannya ialah iblis, karena NKRI dipertahankan dengan cara-cara dan berdasarkan metode iblis, dengan ciri utama dan pertama penuh dusta, penuh tipudaya.

Walaupun ada doa-doa dinaikkan oleh orang Kristen, orang Islam, orang Hindu, orang Budha, kita semua harus akui bahwa kebenaran universal tidak dibatasi oleh agama apapun, karena ia bersifat mutlak bagi kita semua. Dan kebenaran mutlak itu mengatakan bahwa siapapun kita tahu bahwa fondasi pendirian dan cara mempertahankan NKRI penuh dengan pertumbahan darah, penuh dengan tipu-daya dan penuh dengan curiga-mencurigai.

Ciri kedua kerajaan iblis ialah masyarakat yang penuh dengan curiga-mencurigai, sampai-sampai malaikat yang berkarya di Indonesia-pun patut dicurigai. Ini pertanda telah terjadi krisis kepercayaan sampai ke tingkatan yang paling parah dalam sejarah manusia.

Ciri ketiga dari kerajaan NKRI sebagai kerajaan iblis ialah tidak ada kasih dalam hati, pikiran, kata-kata dan perilaku orang Indonesia. Memang katanya dalam pelajaran Pancasila dan agama ialah bahwa orang Indonesia itu ramah dan sopan, lemah-lembut dan bermoral. 

Tahu-tahu apa yang terjadi?

  1. Banyak kasus korupsi diungkap di Indonesia, bahkan di departemen agama, di mesjid dan gereja terjadi korupsi.
  2. Banyak kata-kata tidak sopan, merendahkan martabat manusia seperi "bodoh", "tolol", "goblok", ditambah lagi nama-nama Ragunan Zoo juga keluar dari mulit manusia yang katanya beradab itu. 
  3. Berulang-kali orang Papua disebut "Wong ireng", dan "Kera", "Babi", "Anjing" dan "binatang". Carilah di google.com dan akan anda temukan dengan mudah ucapan rasis orang Indonesia kepada orang Papua.

NKRI identik dengan kerajaan iblis. NKRI dengan mudah dapat dicap sebagai negara iblis. Selain tiga alasan di atas, Anda dapat dengan mudah mendaftarkan alasan-alasan lainnya. Misalnya

  1. Pemimpin Indonesia gemar berziarah ke kuburan sebelum dan setelah Pilkada, pertanda penyembahan berhala marak;
  2. Agama-agama yang ada di Indonesia banyak beternak jin, banyak menggunakan jin, banyak menyembah tuyul, banyak menikah dengan Nyi Roro Kidul, dan sebagainya.
  3. Kasus-kasus di Indonesia banyak ditangani dengan perdukunan: misalnya untuk menangkap teroris, untuk menangkap pencuri, untuk meramal.
Enam daftar perilaku orang Indonesia ini jelas-jelas menjukkan orang Indonesia hidup dalam perdukunan masal dan terbuka, penyembahan berhala secara umum dan terbuka, tanpa pernah ditegur oleh gereja manapun. Banyak pendeta-pendeta Kristen, yang ternama-pun ada di Indonesia, tetapi mereka memilih diam, dan malahan mendokana NKRI agar tetap utuh, agar kerajaan iblis ini tetap menjadi kutuk bagi bangsa Indonesia.

Komentar Penutup

Karena saya sadari bahwa NKRI tidak layak berdiri sebagai negara modern yang beradab, maka saya harus bertindak membela kebenaran.
  1. Adalah kebenaran mutlak bahwa Tanah Papua adalah tanah milik bangsa Papua, bukan diciptakan untuk orang Indoensia;
  2. Adalah kebenaran mutlak bahwa orang Papua adalah ciptaan Allah seupa dan segambar dengan Dia sendiri, dan karena itu BUKAN Monyet dan Bukan Binatang seperti panggilan orang Indonesia (NKRI Kristen, NKRI Islam, NKRI Hindu, NKRI Budha, NKRI Jawa, NKRI Manado, NKRI Batak, NKRI Bali, NKRI Makassar);
  3. Adalah kebenaran mutlak bahwa pembunuhan atas orang Papua dengan alasan separatisme, melawan hukum NKRI adalah menentang Hukum Allah yang melarang kita "Jangan membunuh!";
  4. Adalah kebenaran mutlak bahwa saya sebagai orang Kristen, saya sebagai manusia sehat rohani dan jasmani, akal dan otak, saya harus berpihak kepada kebenaran, tidak kepada perasaan, tidak kepada emosi, tidak kepada nasionalisme duniawi yang membunuh dan membinasakan orang lain, tidak kepada dusta;
Jadi, kalau apa yang saya katakan dianggap sebagai sebuah perkataan yang melawan NKRI, maka Anda salah! Karena saya tidak melawan siapapun, dan saya tidak beruntung dengan melawan siapapun atau apapun. 

Tugas saya sebagai orang beragama Kristen, orang lahir baru, dan kewajiban saya sebagai manusia beradab ialah membela kebanenaran, tanpa perduli apapun resikonya, siapapun yang berpihak kepada kebenaran itu tidak penting, yang terpenting ialah saya telah tahu dan karena itu saya membela kebenaran itu.

Kebenaran yang saya maksud di sini bukanlah kebenaran saya atau kebenaran Anda, bukan juga kebenaran kami dan kebenaran mereka. Juga bukan kebenaran mereka dan kebenaran siapa-siapa. 

Yang saya bela ialah kebenaran mutlak. Kebenaran universal. Kebenaran yang tidak berpihak dan tidak melekat kepada siapapun. Kebenaran yang bersumber dari dan berumpu kepada Allah Bapa, di dalam Putra-Nya Yesus Kristus, yang dinyatakan melalui Roh Kudus.

Dua Perspektif Kemerdekaan: Merdeka dari .... (free from...) dan Merdeka untuk...(free to..)

Pengantar

Mirip dengan perbedaan kata perjuangan yang kita petakan sebelumnya, yaitu berjuang menentang dan berjuang untuk, maka kata "merdeka" juga mengandung dua perspektif: yang pertama dari perspektif merdeka dari..., dan yang kedua dari perspektif merdeka untuk.

"Kemerdekaan" (atau freedom) adalah keadaan di mana (1) seseorang tidak terikat, tidak dibatasi, tidak terhalangi dan (2) seseorang bebas untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Maka sering saya menggunakan istilah "free to..." dan "free from..."

Dua Perspektif Merdeka secara Konseptual

Dalam konteks perjuangan bangsa Papua, maka kedua perspektif atau konsep ini dinyatakan dalam dua kalimat berikut

  1. Papua Merdeka ialah bebas dari cengkeraman NKRI, bebas dari pendudukan NKRI, bebas dari penjajahan Indonesia;
  2. Papua Merdeka ialah bebas untuk mengurus diri sendiri, bebas untuk menyatakan pendapat, bebas untuk berorganisasi dan berkumpul, bebas untuk menyatakan pendapat memisahkan diri dari NKRI.
Setelah bebas dari pendudukan dan penjajahan NKRI, maka bangsa Papua mau bebas untuk mengatur diri sendiri, mengatur rumah-tangga sendiri, mengatur bangsa sendiri di dalam negara baru bernama Republik West Papua. Itu konsep dari "merdeka untuk..."

Untuk mencapai kemerdekaan itu, maka bangsa Papua harus merdeka dari berbagai hal terkait dengan NKRI, yaitu antara lain
  1. merdeka dari cara berpikir orang Indonesia;
  2. merdeka dari perilaku orang Melayu-Indonesia;
  3. merdeka dari selera makan-minum ornag Melayu-Indonesia;
  4. merdeka dari hukum dan peundangan NKRI;
  5. merdeka dari negara Indonesia
  6. merdeka dari pemerintah Indonesia;
  7. merdeka dari matauang Rupiah
  8. merdeka dari bahasa Indonesia
Untuk mewujudkan kemerdekaan dari... di atas, maka kita harus
  1. merdeka untuk berpikir sebagai orang Melanesia;
  2. merdeka untuk berperilaku sebagai orang Melanesia;
  3. merdeka berselera makan-minum Melanesia;
  4. merdeka dalam hukum dan perundangan West Papua;
  5. merdeka dengan bernegara sendiri; Republik West Papua;
  6. merdeka berpemerintahan sendiri, pemerintah Republik West Papua
  7. merdeka memiliki matauang sendiri atau menggunakan matauang Kina
  8. merdeka menggunakan Tok Pisin atau Bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa penjajah: Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu-Indonesia

Catatan Penutup

Dalam penggunaannya biasa dipakai kata "liberation" untuk pembebasan atau free from..., dan "freedom" untuk kebebasan atau free to... Kedua-duanya berbicara tentang "liberty", yaitu kebebasan.untuk melakukan apa yang dikehendaki seseorang, kondisi bebas dari tekanan, ancaman, dari regime yang opresif.

Ada pertanyaan pembeda untuk kata "Papua Merdeka":
  • Apakah orang Papua mau merdeka dari Indonesia ataukah orang mau merdeka untuk bernegara-bangsa sendiri?
Sama dengan pertanyaan sebelumnya, "Apakah orang Papua berjuang menentang NKRI ataukah ornag Papua berjuang merebut kemerdekaan?", maka kita sebagai orang Papua maupun kita sebagai pejuang Papua Merdeka haruslah jelas, apa yang kita maksudkan dengan ungkapan "Papua Merdeka", karena kalau tidak jelas kita akan berputar-putar dalam lingkaran setan tanpa menemukan jalan keluar, tanpa mengetahui langkah teknis apa yang harus diambil, karena kita dikaburkan oleh konsep "Papua Merdeka" yang tidak jelas.

Kalau bangsa Papua bicara merdeka untuk bebas mengatur diri sendiri di dalam NRWP (Negara Republik West Papua), maka pastilah akan nampak bagi semua pihak, langkah-langkah dengan tahapan yang jelas dan nyata, sehingga perjuangan ini tidak mengambang, tidak multi-tafsir, dan tanpa target waktu, dana dan daya yang jelas.

Bila bangsa Papua bicara merdeka dari NKRI, maka kita akan harus tergantung kepada apa saja yang dipikirkan, apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan NKRI. 

Saya berharap kita tidak terjebak dalam ambiguitas yang berkepanjangan tentang apa arti Papua Merdeka buat saya, buat Anda, buat ULMWP dan buat bangsa Papua secara keseluruhan, sehingga membantu bangsa-bangsa lain di muka Bumi mengambil sikap mendukung atau tidak mendukung perjuangan ini.


Monday, November 9, 2020

Dua Perspektif Perlawanan: Menentang dan Merebut

 Ada dua persektif yang secara fundamental berbeda, walaupun menggunakan kata yang sama, dari kata "lawan" atau "melawan" atau "perlawanan".

Melawan = Menentang

Yang pertama adalah perlawanan yang artinya melawan atau menentang atau bertolak-belakang dengan apa yang ada saat ini. 

Dibandingkan dalam pertandingan sepak bola, maka perlawanan yang menentang ialah permainan bertahan (defensive), di mana kesebelasan yang diturunkan bermain untuk mempertahan apa yang mereka miliki.

Dalam permainan defensive kebanyakan energi dan perhatian diberikan kepada pemain lawan, terutama kelebihan, kekurangan dan cara-cara untuk mengatasi serangan lawan yang dimotori oleh sang striker. Orang kedua yang diperhatikan ialah penyerang sayap kiri dan sayap kanan. Tiga orang ini akan menjadi pembahasan dan fokus utama.

Melawan = Merebut

Berbeda dengan itu, kalau kesebelasan yang bersangkutan menerapkan sistem menyerang, atau offensive, maka fokus utama permainan ialah bagaimana mengoptimalkan kemampuan dari stikernya dan pemain sayap kiri dan kanan dari kesebelasannya. Fokus utama ialah bagaimana mencetak goal di gawang lawan.

Permainan offensive ini dalam konsep kedua dari kata melawan kita sebut "berjuang untuk merebut" atau mendapatkan sesuatu. Dengan fokus merebut kemenangan, maka semua kekuatan dikerahkan untuk "merebut" kemenangan.

Perjuangan Papua Merdeka?

Perjuangan Papua Merdeka menjalani kedua-duanya, tetapi mari kita lihat perbedaan keduanya dalam perilaku perjuangan Papua Merdeka. Perbedaan yang dipetakan dis ini bukan antara yang pro dan yang kontra Papua Merdeka, tetapi konsep pemikiran, konsep wacana dan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam kampanye Papua Merdeka yang mencerminkan apakah perjuangan Papua Merdeka ini lebih dalam rangka menentang NKRI ataukah lebih bertujuan merebut kemerdekaan Negara Republik West Papua (NRWP).

Yang dilakukan orang Papua yang Berjuang Melawan Indonesia

Pejuang Papua Merdeka yang berjuang menentang NKRI akan melakukan hal-hal berikut:

  1. Selalu membaca status dan berita-berita dari Jakarta, dan yang dilakukan pemerintah Indonesia;
  2. Selalu memikirkan, memberikan pendapat atau mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terjadi di Jakarta atau di Indonesia, atau apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang Indonesia, baik masyarakat umum tetapi terutama pejabat NKRI.
  3. Menghabiskan banyak waktu berdiskusi tentang apa saja yang dikatakan orang Indonesia dan NKRI.

Yang dilakukan orang Papua yang Berjuang Merebut Kemerdekaan

Pejuang Papua Merdeka yang berjuang untuk merebut kemerdekaan, atau untuk memerdekakan wilayah West Papua dari penjajahan akan melakukan hal-hal berikut:
  1. Lebih banyak memikirkan dan menceritakan bagaimana kehidupan setelah Papua Merdeka dan berdaulat penuh di luar NKRI.
  2. Lebih fokus berpikir tentang sasaran, langkah-langkah, strategi untuk Papua Merdeka dan berdaulat di luar NKRI.
  3. Memiliki konsep dan abstraksi yang jelas tentang ciri-ciri West Papua yang merdeka dan berdiri sendiri.
  4. Tidak akan pusing dengan apapun yang dipikirkan, dikatakan atau dilakukan oleh NKRI atau orang Indonesia.

Yang dilakukan orang Papua yang tidak percaya diri

Di antara kedua jenis orang berdasarkan konsep perlawanan "melawan" dan "memperjuangkan" ini, ada juga orang Papua yang tidak melawan dan juga tidak memperjuangkan apa-apa.

Kalau begitu apa kerjanya?
  1. Dia bicara tentang Papua Merdeka, tetapi orientasi berpikirnya selalu ke belakang, selalu bicara tentang penjajahan Belanda, selalu bercerita tentang Jacob Prai dan Seth Roemkorem, selalu berpatokan kepada apa yang telah terjadi, telah berlalu.|

  2. Dia selalu mengupdate status tentang apa saja yang terjadi di Amerika Serikat, Austarlia dan Inggris, tiga negara yang mewarnai politik global hari ini. Dengan mengupdate states tentang apa yang sedang terjadi dan perkembangan di sana, mereka mengkait-kaitkannya dengan Papua Merdeka. Mereka mengemukakan harapan-harapan dan doa-doa manis. Mereka percaya bahwa Papua Merdeka bukan direbut, bukan juga didapatkan dngan melawan NKRI, akan tetapi akan diberikan cuma-cuma oleh negara-negara barat.

    2.1
    Logika pertama, karena negara barat yang bikin salah jadi mereka harus memperbaiki kesalahan dan mereka akan memperbaiki kesalahan, maka itu kita harus berdoa dan berharap.
    2.2 Mereka itu negara-negara Kristen, jadi pasti akan membantu West Papua.
    2.3 Mereka yang dulu lepaskan bangsa Papua dari perang suku, isolasi dan kekafiran, jadi kemerdekaan politik juga pasti berasal dari mereka. Kuncinya mereka ada pegang, bukan ada di Indonesia, apalagi di tangah orang Papua tidak ada.

  3. Mereka tidak pernah mengikuti pertemuan, tidak pernah memberikan sumbangan keuangan, sumbangan tenaga sumbangan pikiran kepada perjuangan Papua Merdeka, tetapi mereka selalu muncul tiba-tiba, entah dari mana tidak tahu, lalu bicara Papua Merdeka. Penyebabnya ialah mereka secara tersirat menganut pemikiran bahwa kemerdekaan akan turun sesuai waktunya, entah menurut rencana Allah atau menurut nasib-basiban.

Komentar Penutup 

Kita tidak berbicara tentang benar-salah, boleh-jangan, tetapi kita berbicara tentang pilihan yang dapat kita ambil untuk Papua Merdeka. 

Pilihan pertama ialah berjuang terus melawan NKRI, karena nanti NKRI yang memberikan kemerdekaan kepada bangsa Papua.

Pilihan kedua, jangan berharap kepada siapapun, percayalah kepada diri sendiri, perjuangkan apa yang mau anda perjuangkan, dan bertekun sampai mencapai cita-citamu.

Pilihan ketiga, jangan datangkan banyak masalah buat hidupmu, tinggal saja dan berdoa. Kemerdekaan akan datang kalau Tuhan kehendaki. Setiap masalah pasti ada solusi. Tuhan akan mengirim malaikatnya, mengirim negara Kristen barat untuk membebaskan bangsa Papua dari penjajahan.

Siapakah Anda?

Kalau saya memilih berpihak kepada kelompok orang Papua yang kedua, yaitu berjuang untuk merebut kemerdekaan. Itulah sebabnya sudah 20 tahun genap saya habiskan masa hidup saya menulis buku, berteori dan memperjuangkan Papua Merdeka.

Saya tidak pernah berharap kepada orang Indonesia ataupun orang Barat. Sedikitpun tidak!

Pengharapan saya yang pertama dan terutama ada dalam Yesus Kristus, Tuhan, Pencipta, Juruselamat, Gembala, Hakim Agung, Panglima Mahatinggi Komando Revolusi Semesta Alam Sepanjang Masa, dan kedua percaya kepada anak pilihan-Nya untuk tugas pembebasan bangsa Papua, yaitu diri saya sendiri, dan kepada semua pejuang Papua Merdeka di manapun Anda berada. 

Oleh karena itu perjuangan ini telah saya jalani dengan totalitas: meninggalkan jabatan yang menggiurkan di Universitas Cenderawasih, NIP PNS yang menjamin keluarga saya dan ketenangan hidup.

Tentu saja dan saya tahu itu, saya tidak berhak memaksa Anda berpihak ke mana. Tugas saya hanya menerangi jalan, dan memberitahukan jalan yang telah saya pilih. Hanya itu...

Sunday, December 8, 2019

Apa Artinya Papua Merdeka buat saya? (2)

Kita sambung menjawab "Apa Artinya Papua Merdeka buat saya?"

Uraian di sini menjelaskan jawaban-jawaban dari berbagai pihak Orang Asli Papua (OAP), lalu dikaitkan dengan jawaban dari saya. Intisari persoalan yang hendak dipaparkan ialah kekosongan abstraksi "Papua Merdeka" sebagai konsep berbangsa dan bernegara yang diperjuangkan "Papua Merdeka"

Kita telah melihat dua jawaban dari pejuang di Rimba New Guinea dan orang Papua Warga Negara Belanda di Negeri Belanda, yang saya sendiri temukan dalam perjumpaan dengan mereka.

Saya akan masuk ke dalam tanah Papua. Di dalam negeri sendiri saya mau sebut tiga versi pejuang Papua Merdeka. Yang pertama ialah versi nostalgik, yaitu mereka yang selalu membandingkan kehidupan di zaman Belanda, kebaikan-kebaikan Belanda dan dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan kebiadaban NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia). Wacana yang mereka kembangkan ialah bahwa Papua Merdeka adalah untuk mengembalikan memori di zaman Belanda itu menjadi kenyataan dan pengalaman hidup hari ini dan hari esok.

Kelompok kedua versi pragmatis, mereka tidak perduli dengan apa yang ada di zaman lalu dan apa yang akan datang kemudian. Mereka hanya mau NKRI harus keluar dari Tanah Papua, karena dengan orang Indonesia keluar dari negeri ini, maka kedamaian akan hadir, entah dalam bentuk apapun tidak-lah menjadi masalah. Yang penting tangan pembunuh NKRI harus keluar dari Tanah Papua. Itu yang disebutnya Papua Merdeka.

Kelompok ketiga ialah mereka yang membela ideologi dan menentang ideologi. Mereka berteriak menentang kolonialisme dan kapitalisme. Mereka sering mengatakan "kami tidak membenci orang Indonesia", tetapi "kami membenci kolonialisme dan kapitalisme". Ada wacana sebagai lawan dari kolonialisme dan kalpialisme, kita berpihak kepada sosialisme, karena sosialisme dianggap sebagai jalan keluar dari kolonialism dan kapitalisme. Mereka menyampaikan wacana tentang betapa manisnya dan indahnya hidup sebagai negara sosialis, masyarakat sosialis.

Orang Asli Papua (OAP) yang meperjaungkan Papua Merdeka ditantang untuk menjelaskan, pertama-tama kepada dirinya sendiri, "apa yang dia maksud dengan Papua Merdeka?" Kita sudah lihat dua versi jawaban dalam catatan sebelumnya, Kini kita lihat tiga jawaban lagi.

[bersambung]

Monday, October 21, 2019

Apa Artinya Papua Merdeka buat saya? (1)

Papua Merdeka Masih Butuh Abstraksi yang Berisi Fiksi tentang Republik West Papua yang Merdeka dan Berdaulat

Apa maksud saya, kalau saya bilang "Papua....." disambut dengan "Merdeka!!!!!", atau dalam bahasa Inggris di Papua New Guinea saat ini selalu diucapkan "Free West Papua". 


Kaum intelektual West Papua dan Melanesia secara umum perlu menjelaskan apa yang kita maksudkan dengan "Papua Merdeka", dan mengapa "Papua Merdeka", bukan hanya sekedar dengan menunjukkan sejarah yang salah, pelanggaran HAM yang berat dan perusakan alam yang dilakukan Negarea Kolonial Republik Indonesia (NKRI) selama ini.

Bagi kebanyakan orang awam, "Papua Merdeka!" artinya tentara Indonesia, polisi Indonesia, aparat pemerintah Indonesia mulai dari Presiden sampai Kepala Desa, semuanya angkat kaki dari Tanah Papua. Itu artinya "Papua Merdeka!"

Bagi kaum intelektual, tentu saya "Papua Merdeka!" artinya menggantikan semua sistem yang ada sekarang, yang dimiliki dan dijalankan oleh NKRI dan digantikan dengan rancangan sistem yang baru, yaitu yang berasal dari bangsa Papua.

Kalau kita mendengarkan cerita-cerita di antara gerilyawan yang ada di rimba New Guinea, maka ceritanya sedikit berbeda. Mereka setuju Indonesia keluar. Mereka setuju sistem baru diberlakukan. Tetapi mereka juga mau agar semua keinginan-keinginan liar dan tak terkendali yang ada di dalam diri mereka diekspresikan tanpa batas, sampai sepuas-puasnya. Misalnya, mereka punya rencana untuk menikahi perempuan-perempuan. Mereka punya wacana untuk mengkhususkan tempat-tempat peristirahatan bagi para gerilyawan, dan dilayani sepenuhnya oleh negara. Mereka punya wacana anak-anak para pahlawan diperhatikan penuh dan dibiayai oleh Negara Republik West Papua (NRWP).

Waktu saya bertemu dengan para pejuang yang ada di Belanda, wacana mereka juga berbeda. Mereka bilang, "Anak, kakak, sobat, saya sudah punya hubungan dengan dengan pabrik pesawat Fokker, dan kita akan buat perusahaan pesawat di negara West Papua dan kami menjadi pemilik sahamnya." Ada juga yang bilang, "Sobat, saya punya hubungan sangat dengan dengan Shell, jadi kita sudah siapkan perusahaan untuk operasi di negara kita". Jadi ada angan-angan tinggi, di mana kita akan mengendalikan dan mengelola sumberdaya alam yang ada di Tanah Papua.

[bersambung...]