Showing posts with label kebenaran. Show all posts
Showing posts with label kebenaran. Show all posts

Friday, November 22, 2024

"Pria Hanya Memperbaiki Wanita yang Mereka Cintai” – Kebenaran yang Buruk

Dengarkan, kawan. Jika Anda membiarkan seorang wanita berputar ke dalam kekacauan tanpa melangkah masuk, Anda tidak mencintainya—Anda hanya bermain bersama untuk kenyamanan Anda sendiri. Cinta sejati bukan tentang penerimaan pasif; ini tentang meningkatkan, membuatnya bertanggung jawab, dan membimbingnya untuk menjadi diri terbaiknya. Jika Anda tidak bisa melakukan itu, Anda takut atau tidak tertarik pada masa depannya.

Seorang pria yang tidak memiliki rencana jangka panjang untuk seorang wanita akan membiarkan dia "melakukan apa pun." "Dia akan membiarkan dia berpakaian setengah telanjang, merokok, minum sembrono, dan bertindak liar karena dia tidak peduli tentang masa depannya—dia hanya ada di sana untuk sensasi jangka pendek. Dia tidak berinvestasi padanya sebagai mitra; dia mengeksploitasi dia. Dan bagian terburuknya? Banyak wanita lebih suka ini. Mereka menganggap diamnya sebagai cinta, tidak menyadari bahwa seorang pria yang tidak memperbaikinya tidak menghormati mereka.

Bandingkan ini dengan pria yang benar-benar mencintai seorang wanita. Dia tidak akan duduk dan membiarkannya menghancurkan dirinya sendiri. Dia akan menceritakan kebenaran yang sulit, bahkan jika itu menyengat. Jika dia berpakaian tidak tepat atau terlibat dalam kebiasaan merusak diri sendiri, dia akan menghadapinya karena dia peduli. Dia tidak mengendalikannya—dia melindunginya. Cinta sejati melibatkan disiplin dan koreksi karena ia melihat potensi dirinya dan ingin membangun masa depan bersama.

Tapi inilah masalahnya: banyak wanita tidak dapat mengatasi koreksi. Mereka lebih suka menyerap emosi mereka, mengeluh kepada teman-teman, dan mendengar kebohongan seperti, "Kamu layak mendapatkan yang lebih baik, sayang. "Mereka membingungkan bimbingan dengan kontrol, menolak orang-orang yang cukup peduli untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Sementara itu, mereka berpegangan pada pria yang membiarkan mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan—pria yang tidak peduli dengan masa depan mereka. Lingkaran dapat diprediksi, dan hasilnya selalu sama: penyesalan.

Teman-teman, berhenti memungkinkan kekacauan. Jika seorang wanita menolak koreksi, dia tidak sepadan dengan waktumu. Seorang wanita yang benar-benar menghargai Anda akan menghormati bimbingan Anda, bukan membencinya. Koreksi bukan tentang kontrol—itu adalah tindakan cinta. Jika kamu mencintainya, kamu ingin dia menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Tetapi jika dia tidak dapat menangani akuntabilitas, dia belum siap untuk hubungan yang nyata.

Dan wanita, pahami ini: pria yang mengkoreksi Anda bukanlah musuhmu—dia adalah sekutu Anda. Pria yang tetap diam tidak peduli padamu; dia hanya menghabiskan waktu. Orang yang memanggilmu keluar adalah berinvestasi di masa depanmu. Jangan menyalahartikan disiplinnya dengan kritik. Dia membangunmu, bukan menghancurkanmu.

Intinya? Cinta sejati bukan tentang membiarkan seseorang "melakukan apa pun yang mereka inginkan. "Ini tentang menetapkan standar, saling bertanggung jawab, dan membangun masa depan yang solid bersama. Jika kamu tidak mau memperbaiki wanita yang bersamamu, kamu tidak benar-benar mencintainya. Dan jika dia tidak dapat menangani koreksi, dia juga tidak mencintai atau menghormati Anda.

Tetaplah kuat, tetaplah tajam, dan tuntut pertanggung jawaban dalam setiap hubungan. Seorang wanita yang layak dijaga akan menghargai bimbingan Anda dan menghormati kepemimpinan Anda. Apa pun yang kurang adalah buang-buang waktu.

Aklahyel Goni

Share FB.

@pengikut 
@sorotan 
semua orang

Friday, August 6, 2021

Catatan Singkat tentang "Benar" lawan "Tipu" menurut Pdt Emeritus Ki'marek Karoba Tawy

 

Alm. Pdt. Emeritus Ki'marek Karoba Tawy

 Di antara melawan dusta atau ketidak-benaran dan membela kebenaran, yang diajarkan Alkitab ialah mengabaikan kedua-duanya, karena berdasarkan hukum alam, yaitu hukum yang ditetapkan Allah untuk dipelajari dan dipatuhi manusia, membela kebenaran bukanlah cara untuk mengalahkan ketidak-benaran atau kesalahan; dan juga menyalahkan kesalahan bukan juga caranya.

  • Kalau begitu apa caranya?

Menurut Alkitab: Injil Yohanes 8:32 TB

dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”<https://www.bible.com/id/bible/306/JHN.8.32.TB>
Menurut Injil Yohanes kita harus mengetahui kebenaran dan dengan demikian secara otomatis kebenaran itu akan mengalahkan dusta. 

Kita sederhanakan dengan contoh. Kalau Anda mau menerangi sebuah ruangan, apakah kita mengurangi gelap? 
Kalau kita harus mengurangi gelap untuk menerangi ruangan, maka itu sebuah tindakan yang tidak akan pernah berhasil, karena kegelapan memang tidak pernah ada.

Yang ada ialah ketiadaan terang. Terang yang absen inilah yang kita beri nama gelap. Sama dengan it, dusta ialah ketiadaan kebenaran. Sama dengan itu, dosa artinya hadirat Allah absen.

Kita ingat waktu manusia memakan buah terlarang di Taman Eden maka kemuliaan Allah lenyap. Hadirat Allah memudar. Oleh sebabnya Allah mencari.manusia dan memanggil "di manakah engkau?"

Untuk mengurangi kegelapan dalam suatu ruang, kita harus menerangi ruangan tersebut dengan lampu. Seterang apa atau segelap apa ruang dimaksud ditentukan oleh seberapa kuat terang yang kita hadirkan. Sebuah lampu pijar atau neon dengan daya yang besar tentu saja akan menerangi ruangan yang besar.

Jadi, untuk mengalahkan gelap, kita tidak berusaha melakukan sesuatu terhadap gelap. Tetapi sebaliknya kita justru menghadirkan dan memperbesar terang dan daya. Karena pada hakekatnya gelap iti tidak pernah ada. Yang ada ialah ketiadaan terang atau.kehilangan kemuliaan Allah.

Sama dengan itu, untuk menghilangkah dingin, kita tidak melakukan apa-apa terhadap atau atas dingin, tetapi yang kita lakukan ialah menghadirkan panas dan selanjutnya bila perlu memperbesar panas. Karena dingin sama dengan kekurangan dan ketiadaan panas.

Sama dengan itu untuk mengalahkan tipu-daya NKRI di West Papua, maka orang Papua tidak perlu mencari-cari, merumuskan dan menyerang kesalahan-kesalahan NKRI di West Papua, akan tetapi orang Papua harus memperbesar hal-hal positive, hal-hal baik, hal-hal yang menguntungkan kalau Papua Merdeka. Bertekun dan bertekun dalam perjuangan. Saling merendahkan diri! Saling mengampuni! Saling memperbaiki! Bersatu di dalam Yesus Kristus.

Untuk menentang ketisak-benaran dan kejahatan NKRI maka West Papua dan ULMWP lewat UUDS NRWP harus mampu menghadirkan kebenaran, kedamaian, Sukacita, harmony agar dinikmati oleh OAP dan orang Amber di Tanah Papua.

Maka secara otomatis, Tuhan akan beperang melawan tipu-daya, teror dan intimidasi, penangkapan semena-mena, pemenjaraan tanpa proses hukum yang adil, peradilan berat sebelah, penyiksaan, bahkan sampai pembunuhan atas orang Papua.

Di hari duka yang mendalam, hari ini ayahnda tercinta Pdt. Emeritus Ki'marek Kaorba Tawy yang telah dipanggil Tuhan pada pukul 01.01 Waktu West Papua di Guest House 8plus1.org Wamena, catatan ini disampaiakn menjadi renungan bersama.


Sunday, November 22, 2020

Berpihak Kepada Kebenaran atau Menentang NKRI? (1)

Pengantar

Ada dua konsep pemikiran atau perspektif yang perlu dibedakan bagi orang Papua dan orang Indonesia dalam kaitannya dengan hubungan West Papua - Indonesia, hubungan NRWP (Negara Republik West Papua) - NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia), yaitu perbedaan antara berpihak kepada kebenaran dan menentang NKRI.

Saya, Sem Karoba, sebenarnya saya tidak menentang NKRI dan saya juga tidak pernah membenci siapapun, memusuhi siapapun, apalagi merencanakan kejahatan terhadap siapapun. Saya tidak punya kapasitas dan tidak punya sanggup untuk membenci dan memusuhi siapa-siapa. Alasan pertama dan utama karena saya orang Kristen, secara khusus karena saya hamba Tuhan, saya meneladani Kristus, yang telah mengasihi saya dan rela berkorban sampai mati disalib demi penebusan dosa dan salahku.

NKRI dan Indonesia Tidak Layak Beridiri sebagai Negara Modern yang Beradab

Saya tidak pernah memusuhi orang Indonesia karena saya tahu bahwa apa yang dilakukan orang Indonesia atas nama Negara mereka bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Iblis) didukung sepenuhnya oleh iblis sejak pendiriannya, dan harus dipelihara dan dipertahankan oleh iblis dan karena itu pasti akan berakhir. Saya yakin bahwa NKRI pasti berakhir, karena fondasi pendiriannya ialah iblis, karena NKRI dipertahankan dengan cara-cara dan berdasarkan metode iblis, dengan ciri utama dan pertama penuh dusta, penuh tipudaya.

Walaupun ada doa-doa dinaikkan oleh orang Kristen, orang Islam, orang Hindu, orang Budha, kita semua harus akui bahwa kebenaran universal tidak dibatasi oleh agama apapun, karena ia bersifat mutlak bagi kita semua. Dan kebenaran mutlak itu mengatakan bahwa siapapun kita tahu bahwa fondasi pendirian dan cara mempertahankan NKRI penuh dengan pertumbahan darah, penuh dengan tipu-daya dan penuh dengan curiga-mencurigai.

Ciri kedua kerajaan iblis ialah masyarakat yang penuh dengan curiga-mencurigai, sampai-sampai malaikat yang berkarya di Indonesia-pun patut dicurigai. Ini pertanda telah terjadi krisis kepercayaan sampai ke tingkatan yang paling parah dalam sejarah manusia.

Ciri ketiga dari kerajaan NKRI sebagai kerajaan iblis ialah tidak ada kasih dalam hati, pikiran, kata-kata dan perilaku orang Indonesia. Memang katanya dalam pelajaran Pancasila dan agama ialah bahwa orang Indonesia itu ramah dan sopan, lemah-lembut dan bermoral. 

Tahu-tahu apa yang terjadi?

  1. Banyak kasus korupsi diungkap di Indonesia, bahkan di departemen agama, di mesjid dan gereja terjadi korupsi.
  2. Banyak kata-kata tidak sopan, merendahkan martabat manusia seperi "bodoh", "tolol", "goblok", ditambah lagi nama-nama Ragunan Zoo juga keluar dari mulit manusia yang katanya beradab itu. 
  3. Berulang-kali orang Papua disebut "Wong ireng", dan "Kera", "Babi", "Anjing" dan "binatang". Carilah di google.com dan akan anda temukan dengan mudah ucapan rasis orang Indonesia kepada orang Papua.

NKRI identik dengan kerajaan iblis. NKRI dengan mudah dapat dicap sebagai negara iblis. Selain tiga alasan di atas, Anda dapat dengan mudah mendaftarkan alasan-alasan lainnya. Misalnya

  1. Pemimpin Indonesia gemar berziarah ke kuburan sebelum dan setelah Pilkada, pertanda penyembahan berhala marak;
  2. Agama-agama yang ada di Indonesia banyak beternak jin, banyak menggunakan jin, banyak menyembah tuyul, banyak menikah dengan Nyi Roro Kidul, dan sebagainya.
  3. Kasus-kasus di Indonesia banyak ditangani dengan perdukunan: misalnya untuk menangkap teroris, untuk menangkap pencuri, untuk meramal.
Enam daftar perilaku orang Indonesia ini jelas-jelas menjukkan orang Indonesia hidup dalam perdukunan masal dan terbuka, penyembahan berhala secara umum dan terbuka, tanpa pernah ditegur oleh gereja manapun. Banyak pendeta-pendeta Kristen, yang ternama-pun ada di Indonesia, tetapi mereka memilih diam, dan malahan mendokana NKRI agar tetap utuh, agar kerajaan iblis ini tetap menjadi kutuk bagi bangsa Indonesia.

Komentar Penutup

Karena saya sadari bahwa NKRI tidak layak berdiri sebagai negara modern yang beradab, maka saya harus bertindak membela kebenaran.
  1. Adalah kebenaran mutlak bahwa Tanah Papua adalah tanah milik bangsa Papua, bukan diciptakan untuk orang Indoensia;
  2. Adalah kebenaran mutlak bahwa orang Papua adalah ciptaan Allah seupa dan segambar dengan Dia sendiri, dan karena itu BUKAN Monyet dan Bukan Binatang seperti panggilan orang Indonesia (NKRI Kristen, NKRI Islam, NKRI Hindu, NKRI Budha, NKRI Jawa, NKRI Manado, NKRI Batak, NKRI Bali, NKRI Makassar);
  3. Adalah kebenaran mutlak bahwa pembunuhan atas orang Papua dengan alasan separatisme, melawan hukum NKRI adalah menentang Hukum Allah yang melarang kita "Jangan membunuh!";
  4. Adalah kebenaran mutlak bahwa saya sebagai orang Kristen, saya sebagai manusia sehat rohani dan jasmani, akal dan otak, saya harus berpihak kepada kebenaran, tidak kepada perasaan, tidak kepada emosi, tidak kepada nasionalisme duniawi yang membunuh dan membinasakan orang lain, tidak kepada dusta;
Jadi, kalau apa yang saya katakan dianggap sebagai sebuah perkataan yang melawan NKRI, maka Anda salah! Karena saya tidak melawan siapapun, dan saya tidak beruntung dengan melawan siapapun atau apapun. 

Tugas saya sebagai orang beragama Kristen, orang lahir baru, dan kewajiban saya sebagai manusia beradab ialah membela kebanenaran, tanpa perduli apapun resikonya, siapapun yang berpihak kepada kebenaran itu tidak penting, yang terpenting ialah saya telah tahu dan karena itu saya membela kebenaran itu.

Kebenaran yang saya maksud di sini bukanlah kebenaran saya atau kebenaran Anda, bukan juga kebenaran kami dan kebenaran mereka. Juga bukan kebenaran mereka dan kebenaran siapa-siapa. 

Yang saya bela ialah kebenaran mutlak. Kebenaran universal. Kebenaran yang tidak berpihak dan tidak melekat kepada siapapun. Kebenaran yang bersumber dari dan berumpu kepada Allah Bapa, di dalam Putra-Nya Yesus Kristus, yang dinyatakan melalui Roh Kudus.