Showing posts with label teori demokrasi. Show all posts
Showing posts with label teori demokrasi. Show all posts

Friday, April 26, 2024

Character Assasination dan Cara Menghadapinya

Apa itu Character Assasination

Pernahkah Anda menjadi obyek upaya character assasination? Character assasination (CA) atau dalam lidah masyarakat Indonesia disebut dengan pembunuhan karakter adalah upaya merusak reputasi seseorang dengan cara menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, informasi yang tidak berdasarkan fakta. Upaya character assasination dapat berupa pernyataan yang berlebihan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang buruk tentang orang tertentu.

Pembunuhan karakter kerap digunakan dalam dunia sastra yang mengacu pada tindakan mencemarkan nama baik seseorang atau kelompok dengan pernyataan palsu. Banyak penulis menggunakannya sebagai elemen plot dalam karya mereka.

Meskipun bukan konsep yang mudah untuk dipahami, pembunuhan karakter adalah konsekuensi alami dari sifat manusia. Orang tergoda untuk menyakiti orang lain hanya untuk membuktikan bahwa mereka benar. Tidak ada orang yang sempurna, sehingga mereka tidak dapat menahan godaan untuk mengkritik orang lain.


Pemicu Character Assassination

CA biasanya dipicu oleh persaingan hidup yang tidak sehat antar individu atau antar kelompok. Hal ini bisa terjadi di dunia kerja, politik, bisnis, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Persaingan tidak sehat bisa muncul kapan saja dan di mana saja.

Kemunculan CA salah satunya didorong oleh sikap kompleks superioritas, sebuah gangguan dalam jiwa seseorang yang dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mencapai kesempurnaan di atas rata-rata, menjadi terdepan. Gangguan kejiwaan ini membuatnya selalu ingin menjadi individu yang paling unggul sehingga menggunakan cara-cara yang tidak elegan. CA menjadi salah satu cara yang dilakukan seseorang pengidap kompleks superioritas untuk mewujudkan ambisinya sebagai pribadi yang tampak super, unggul.

CA merupakan sebuah efek yang timbul dalam kehidupan bersama dan sarat dengan persaingan. Dalam kehidupan bersama konflik antar individu kerap melukis kehidupan sehari-hari sebagai resiko proses interaksi sosial. Kecenderungan, kebutuhan, cara pandang, dan cara berpikir terhadap sebuah objek yang berbeda-beda pada setiap individu acapkali melahirkan perdebatan, ketegangan, konflik ide, bahkan berujung pada ranah yang lebih ekstrim, konflik fisik bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan diri.

Sebagai individu, kita tidak selalu berhadapan dengan hal-hal yang membuat kita merasa tentram dalam kehidupan kolektif. Pada saat yang sama, keputusan yang kita ambil, tindak tanduk, kebiasaan, sikap, dan gaya bicara kita dapat diterima sekelompok orang tetapi belum tentu mendapat respon positif dari seseorang atau sekelompok orang lainnya. Secara sederhana, kita tidak mungkin menyenangkan semua orang.

Sebagai catatan, apapun posisi saya, Anda, dan kita semua hampir pasti pernah menciptakan ketidaknyamanan kepada orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja--sekecil apapun ketidaknyamanan yang kita timbulkan. Pada titik inilah, Anda berpotensi mengalami pembunuhan karakter. Seseorang yang merasa sebagai pesaing akan hadir dengan melakukan upaya character assasination.

Siapa pun bisa menjadi korban pembunuhan karakter, baik itu nyata atau fiksi. Misalnya, seseorang dapat merusak reputasi orang lain untuk meningkatkan statusnya sendiri di komunitas atau tempat kerja. Ini disebut manajemen persona negatif dan merupakan sifat manusia yang umum. Kebanyakan orang tergoda untuk menyakiti orang lain dan kemudian membangun diri mereka sendiri di atas kemalangan sesama. Semua orang melakukan kesalahan tetapi tidak seorangpun memiliki hak sempurna untuk melakukan tindakan menghancurkan reputasi orang lain.



Bagaimana menyikapi Character Assasination?


Tanggapi dengan Tenang

Ketika Anda diterpa Character Assassination, tanggapi dengan tenang. Don't panic! Tidak perlu panik!. Kecuali jika Anda benar telah melakukan kesalahan. "Berani karena benar takut karena salah" kata pepatah yang saya kenal sejak kelas 2 SD. Apalagi masih ada orang yang memberikan dukungan kepada Anda. Yakinkan diri bahwa Anda memang tidak melakukan sebuah kesalahan.

Kembali kepada narasi sebelumnya. Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang. Selalu akan muncul orang yang tidak se-ide atau berseberangan dengan pikiran Anda. Dengan memegang teguh prinsip ini Anda akan dapat melewati upaya pembunuhan karakter itu dengan baik. Anda juga tidak perlu gusar dan marah-marah. Sabar saja.  


Lakukan refleksi diri

Refleksi diri merupakan langkah paling bijaksana ketika Anda merasa berhadapan dengan upaya character assassination. Refleksi diri adalah proses melihat kembali pengalaman yang telah dijalani untuk dapat menarik lessons learned bagi diri sendiri. Untuk melakukan refleksi diri dibutuhkan kejujuran pada diri sendiri. Kita harus berani mengambil penilaian bahwa kita memang pernah melakukan kekeliruan sehingga ada orang lain yang dibuat tidak nyaman.

Pada titik ini banyak orang yang gagal menghadapi masalah karena ketidakmampuan reflektifnya. Hal ini disebabkan, salah satunya, sikap egosentris yang berlebihan. Merasa menjadi pribadi yang paling benar. Hilangkan itu agar proses reflektif itu mencapai titik yang benar-benar objektif.

Satu hal yang patut dicatat bahwa bisa jadi memang ada salah satu dari tindakan dan keputusan keliru pernah kita lakukan. Ingat saja kemampuan kita adalah kemampuan manusiawi. Ada keterbatasan yang tidak bisa kita hindari sebagai manusia.

Di sinilah proses reflektif itu bekerja dan memungkinkan Anda memahami diri sendiri dapat memperbaiki situasi yang telah Anda ciptakan. Dengan kata lain, Anda tidak perlu melakukan serangan balik saat Anda dirugikan; cukup perbaiki apa yang Anda anggap sebagai masalah dan lanjutkan hidup Anda dari sana. Reaksi Anda akan menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang kuat yang dapat menangani kesulitan tanpa benar-benar hancur.

Diskusikan dengan Rekan yang Dipercaya
Seseorang kerap tidak bisa bertahan melawan pembunuhan karakter sendiri. Pada titik ini, Anda membutuhkan orang lain sebagai pusat moral yang kuat dan teman-teman yang baik untuk mendukung Anda. Jika Anda gagal melakukan refleksi, cobalah berdiskusi dengan rekan-rekan yang dapat dipercaya. Hindari berbicara dengan seseorang yang dapat mengeksploitasi emosi negatif Anda.

Saat Anda berhadapan dengan isu murahan, Anda memerlukan orang lain untuk mengatasinya. Anda perlu melakukan diskusi dengan orang lain untuk menyikapi masalah tersebut. Maka carilah seseorang yang Anda anggap bijaksana dan memiliki cara berfikir jernih untuk membantu Anda. Anda tidak bisa mengontrol apa yang orang lain katakan tentangmu, tapi kamu bisa mempercayai kedewasaan seseorang.

Lombok Timur, 26 Oktober 2022

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Character Assasination dan Cara Menghadapinya", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/mohamadashabulyamin2428/635956f94addee15f73a0af2/character-assasination-dan-cara-menghadapinya?page=2&page_images=1

Kreator: Yamin Mohamad

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Tuesday, June 7, 2022

Sebuah Gagasan dan Teori Harus Dipisahkan dari Oknum Pengagas...


Pembuka

Gagasan Demokrasi Kesukuan, atau kita sebut dalam Konteks Melanesia sebagai Wantok Democracy adalah sebuah konsep demokrasi yang diajukan murni dari hati dan pikiran, alam dan dunia orang Melanesia, tepatnya di West Papua.

Konsep ini perlu dikaitkan dengan gagasan demokrasi pada umumnya di seluruh dunia, tetapi secara khusus gagasan di Melanesia, yaitu pertama gagasan "The Melanesian Way" oleh filusuf kawakan satu-satunya Melanesia, yaitu Bernard Narokobi, dan kedua ialah "Sosialisme Melanesia" oleh Father Walter Lini di Vanuatu.

Kedua gagasan ini saya teruskan dengan memberi nama "The Melanesian Way for Governing System" ialah Wantok Democracy, atau Demokrasi Kesukuan. Kita dapat mengatakan gagasan ini sebagai Sosialisme Melanesia, akan tetapi saya harus terus-terang, saya tidak menganut dan tidak memahami, serta menolak berafiliasi atau diberi label sebagai sosialisme atau liberal, atau kapitalis, semuanya tidak ada urusan dengan kami orang Masyarakat Adat (MADAT), dan oleh karena itu kita harus hindari dan jauhi dari awal.

Asal-usul Gagasan

Saya sebagai penggagas dari sejumlah pemikiran Orang Asli Papua (OAP) hendak menyampaikan kepada publik bangsa Papua (OAP), bahwa secara prinsipil dan universal, sebuah gagasan teori datang dari alam yang berbeda, alam yang tidak sama dengan alam nyata ini. Ia berasal dari alam "imaginasi" dan "dunia abstraksi". Yang kedua, kedatangan atau kunjungan yang datang dari alam sebelah atau alam lain itu tidak terjadi sepanjang waktu, di semua tempat dan kepada orang yang sama secara terus-menerus. Akan tetapi ia datang mengikuti semacam "signal" atau "radar" yang kita miliki dan pancarkan dalam kehidupan yang mengundang dan menarik mereka datang.

Contohnya, saya bisa mendapatkan gagasan dan abstraksi gagasan Demokrasi Kesukuan pada satu waktu dan tempat tertentu secara jelas, akan tetapi pada saat bergeser waktu dan berubah tempat, maka bisa terjadi signal komunikasi tergeser atau terganggu, maka saluran informasi dan konsep tidak terjadi, atau terganggu, atau sama-sekali menjadi mati.

Oleh karena itu, bilamana sebuah konsep pernah terlahir di tengah-tengah bangsa manapun di dunia, biasanya dipelihara untuk dipupuk, dikembangkan dan terus-menerus diproses. Teori muncul bukan hanya untuk dianut, akan tetapi terutama sekali untuk mendapatkan tantangan dan bantahan, yaitu berupa ujian-ujian sepanjang perjalanannya. 

Teori yang telah melewati ujian itulah yang akan menjadi sebuah teori yang baku, dianut dan diikuti oleh para teoretisi dan praktisi dalam bidang-bidangnya. Tidak ada teori, apapun teori itu, yang didapati sempurna sepanjang masa. Teori bukan kebenaran mutlak seperti yang ada dalam Alkitab. Teori ialah upaya manusia memetakan kepingan-kepingan kebenaran, untuk mengupayakan kebajikan kepada kehidupan. Dalam hal ini untuk menghadirkan sistem pemerintahan yang holistik dan berbasis lokal dengan orientasi global, berbasis suku, tak berpartai politik dan dianut dalam batas-batas wilayah suku.

Oleh karena, saya sebagai penggagas "Demokrasi Kesukuan", salah satu gagasan yang saya sampaikan ialah agar sistem pemerintahan yang dijalankan di dunia post postmodern ini dijalankan dalam konteks suku-suku, atau dalam masyarakat modern Indonesia, dijalankan di tingkat desa-desa. Di dalam setiap desa terdapat Demokrasi Kesukuan. Begitu demokrasi berproses ke ruang yang lebih luas, maka dapat diterapkan sistem demokrasi yang lain, sesuai dengan konteks sosial, budaya, politik dan kondisi geografis di mana demokrasi dipraktekkan.

Saya tidak pernah berpikir sama-sekali, bukan karena sengaja, akan tetapi karena memang alur pemikiran saya bukan bagian dari itu, bahwa gagasan Demokrasi Kesukuan ialah bagian dari Demokrasi Liberal atau Demokrasi Sosial. Akan tetapi pada tahapan pemolesan, terutama tahun 2003 ke atas, saya menemukan bahwa gagasan ini lebih mengarah kepada pemikiran Anthony Giddens tentang "The Third Way", yaitu Ideologi Jalan Ketiga.

Itu kalau saya memiliki dua tembok pemikiran antara sosialis dan liberal. Akan tetapi saya tidak memilikinya. Alam berpikir saya sangat berbeda.

Demokrasi Kesukuan = Dunia 1 + Dunia 4

Saya memetakan Demorkasi Kesukuan lebih mengarah kepada peta Jared Diamond tentang "The World Until Yesterday" dan buku "In Other Worlds Paperback – Illustrated, October 27, 2014"

Dua orang Bule ini, yang pertama seorang ilmuwan di Papua New Guinea, yang kedua seorang anggota badan misi yang datang ke suku Yali dan menerjemahkan Alkitab Bahasa Yali mengatakan bahwa dunia Tanah Papua dan dunia mereka tidak sama. Oleh karena itu, mereka jelas-jelas mengatakan dunia OAP ialah dunia tersendiri, berbeda dan terpisah dari dunia mereka, di mana mereka berasal.

John Wilson juga menjelaskan bagaimana anak-anaknya dikirim dari wilayah Suku Yali dan dikirim ke Sentani, yaitu dunia yang berbeda lagi dari dunia mereka di kampung, dan mereka mennjalani kehidupan sekolah di Sentani. Kalau cerita ini berlanjut, maka bilamana anak-anak John Wilson dikirim sekolah di Jakarta, maka mereka akan tinggal di dunia yang berbeda lagi. Yaitu dunia yang berbeda dari dunia Suku Yali, Dunia Sentani, dunia tempat mereka berasal.

Berdasarkan keterangan Jared Diamond dan apa yang dijelaskan Wilson meneguhkan dengan jelas dan tepat, bahwa pada saat ini ada empat lapisan:

1. Dunia 1: Dunia MADAT (Masyarakat Adat);

2. Dunia 2: Masyarakat Adat di Kota Mereka (MADAT Papua di Jayapura misalnya)

3. Dunia 3: Masyarakat Indonesia pada umumnya bersama semua orang di Asia Tenggara dan Afrika dan Melanesia.

4. Dunia 4: Masyarakat Post Postmodern, yaitu negara maju seperti Hong Kong, Singapore, Jepang, Inggris, dan lainnya

Sekarang orang Papua semuanya berada di putaran atau lapisan dunia 1 - dunia 2. Kebanyakan kami berada di Dunia 2.

Dunia 2 inilah tempat goncangan-goncangan terjadi sangat banyak dalam kehidupan pribadi maupun kolektif.

Saya cukupkan sampai di sini dulu tentang topik dunia ini.

Dengan konsep ini, maka gagasan Demokrasi Kesukuan dimunculkan untuk menjembatani Dunia 1 dan Dunia 4, sehingga bisa tercipta Dunia 5. Demokrasi Kesukuan memiliki peta pemikiran dan gagasan teori yang cukup mendalam, kemungkinan besar akan dimuat secara utuh dalam 10 buku, dengan rata-rata halaman buku masing-masing ialah lebih dari 200 halaman.

Ini merupakan sebuah sistem pemerintahan yang harus dipertimbangkan, terutama dalam rangka menghadapi berbagai persoalan lingkungan alam hari ini, karena pemanasan global dan perubahan iklim, yang telah nyata-nyata menyebabkan terjadi banyak pulau di kawasan Melanesia tenggelam dan frekuensi dan tingkat banjir serta gempa bumi yang lebih berat daripada sebelumnya.

Tantangan

Memang banyak kali pemuda Papua bicara seperti ini, "Merdeka dulu baru bicara teori...." dan mereka bicara beberapa kali di telinga saya sendiri. Sungguh menyakitkan. Akan tetapi saya mau katakan kepada Anda yang selalu mengucapkan ini, bahwa ungkpatan ini berasal dari iblis. 

"Dalam nama Yesus, saya tolak segala kata-kata dan ucapan yang mematikan gagasan Demokrasi Kesukuan, yang pada akhirnya akan menghadirkan Yesus datang sebagai Raja Damai, untuk memerintah selama-lamanya"

Ada juga yang mengatakan bahwa Demorkasi Kesukuan dirancang untuk memajukan perang suku di dalam suku-suku. Ada yang katakan Demokrasi Kesukuan tidak nasinoalis tetapi sukuis, dan terutama sekali sangat Suku Walak, dan dimaksudkan untuk mendirikan Negara Walak, Demokrasi Walak. 

Penutup

Sebuah teori dan gagasan harus dibebaskan dari orang atau oknum teoretisi atau konseptor, dan kita harus biarkan dia mengalami pengujian dan pengikisan oleh teori dan konsep yang baik melengkapi maupun membelokkan ataupun menghapuskan. Akan tetapi sebuah teori atau gagasan tidak dapat dimatikan dengan cara menyerang atau menyoroti atau mencampur-adukkannya dengan si penggagas atau teoretisinya sendiri. 

Penggabungan atau penyorotan antara sebuah konsep dan konseptornya merupakan tindakan politis, bukan sebuah langkah ilmiah. Oleh karena itu, sebagai tindakan politik bisa saja sang penggagas dibunuh, seperti yang terjadi pada banyak ilmuwan Eropa, atau juga dalam hal ini terkait konsep Demokrasi Kesukuan, akan tetapi kita harus ingat, bahwa sebuah konsep dan teori dititipkan oleh alam yang berbeda dari alam kita, bukan berasal dari alam nyata ini.

Oleh karena itu, apapun yang terjadi kepada si penggagas, atau apapun yang dikatakan kepada si penggagas tidak akan pernah mempengaruhi sebuah gagasan atau teori. Keduanya merupakan makhluk yang terpisah, yang akan bertumbuh-kembang, beranak-pinang, tanpa yang satu harus mempengaruhi yang lainnya.

Tantangan bagi kita orang Papua, dan secara khusus Pemerintahan Sementara United Liberation Movement for West Papua ialah apakah kita mau berpura-pura mencari istilah dan terminologi yang dianggap enah oleh orang Bule dan tidak dimusuhi oleh orang Papua dan NKRI, ataukah kita berani berdiri di atas kaki sendiri dan membela gagasan OAP?

Ini sebuah keputusan politik.

Entah West Papua menerapkan gagasan ini ataupun tidak, bukanlah sebuah persoalan bagi penggagas. Gagasan ini terbuka bagi siapa saja di dunia, untuk mendalami, mempelajari, menerapkan ataupun menolaknya.



[Salam Waras.......]